Malam itu, Balai Desa Sukamulya di Kecamatan Cigombong, Bogor, tak seperti biasa. Biasanya sunyi, kini dipenuhi suara warga yang datang berbondong-bondong. Para petani gelisah—pupuk subsidi sulit didapat sejak musim tanam kedua. Sebagian bahkan terpaksa beralih ke palawija. Di tengah kerisauan itu, hadir forum 'Tanya Warga' yang digagas Koramil 0621-04/Cigombong. Suasana seperti obrolan di teras rumah, tanpa sekat, di mana petani bisa langsung bertanya pada TNI.
Malam Kamis di Balai Desa: Ketika Petani Bicara, TNI Mendengar
Pak Samsul, petani sawah yang puluhan tahun menggarap lahan, angkat bicara dengan nada setengah cemas. "Pak, kapan pupuk cair bisa sampai? Kami sudah setengah musim," ucapnya lirih. Danramil Kapten Inf Haryanto yang hadir langsung menjawab dengan sabar. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan distributor setempat. "Kami jemput bola. Pupuk sedang dalam perjalanan. Kami akan distribusikan langsung ke kelompok tani, tidak lewat tengkulak," jelasnya tegas. Warga yang hadir pun menghela napas lega. Forum ini rutin digelar setiap Kamis malam, menjadi ruang curhat sekaligus solusi. Selain pupuk subsidi, warga juga menanyakan bantuan benih dan alat pertanian. Diskusi berlangsung cair, diselingi canda dan saling guyon. Kehadiran TNI bukan hanya memberi jawaban, tapi juga mempererat tali silaturahmi antara desa dan negara.
TNI Jemput Bola: Pupuk Langsung ke Tangan Petani, Bisa Panen Lagi
Tak hanya mendengar, TNI pun bergerak cepat. Kapten Haryanto menambahkan bahwa pihaknya akan mengawal penyaluran pupuk hingga ke sawah. Berikut langkah-langkah yang sudah disiapkan:
- Verifikasi data kelompok tani penerima pupuk subsidi secara langsung di lapangan.
- Distribusi pupuk dilakukan dari pintu gudang ke tangan petani, tanpa perantara tengkulak.
- TNI bersama Dinas Pertanian melakukan pengawasan agar pupuk tidak disalahgunakan atau dijual kembali.
- Warga diingatkan untuk waspada terhadap penipuan pupuk palsu yang marak di musim tanam.
Langkah-langkah ini disambut antusias warga. Bagi mereka, jawaban TNI itu lebih berharga dari setangkai bunga. Kini, petani di Sukamulya bisa kembali berharap. Melihat TNI turun langsung hingga ke tingkat desa, semangat gotong royong pun kembali terasa. Di akhir forum, canda tawa kembali terdengar. Pak Samsul pun tersenyum, sambil berjabat tangan dengan Danramil. "Terima kasih, Pak. Kami jadi tenang," ucapnya. Malam itu, balai desa bukan hanya menjadi tempat mengadu nasib, melainkan menjadi bukti bahwa negara dekat dengan warganya. Dari desa ke negara, dari petani ke TNI, ikatan ini terus dikuatkan oleh rasa saling percaya. Semoga pupuk benar-benar sampai, dan sawah-sawah kembali hijau. Di situ, di tanah yang subur itulah, harapan warga desa terus tumbuh—bersama gotong royong, TNI, dan semangat 'Tanya Warga' yang tak pernah padam.