Di Kampung Sosiri, Jayapura, pagi hari bukan dimulai dengan hiruk-pikuk kendaraan, melainkan dengan langkah-langkah ringan prajurit Yonif TP 810/BEM yang menyapa warga dari pintu ke pintu. Namun, suasana berbeda hari itu. Di bawah tenda sederhana, sebuah posko kesehatan gratis berdiri — bukan untuk perang, melainkan untuk merawat. Warga berdatangan satu per satu, dari anak-anak yang malu-malu hingga nenek-nenek yang tersenyum lega. Mereka tidak hanya datang untuk periksa tensi atau batuk ringan, tapi juga untuk sekadar bercengkerama, merasakan kehangatan layaknya keluarga besar.
Pintu Posko Terbuka, Hati Terbuka Lebar
Prajurit Yonif TP 810/BEM tak datang dengan senjata, melainkan dengan stetoskop dan senyum ramah. Mereka duduk bersila, mendengarkan keluhan warga dengan penuh perhatian. Ada yang mengaduh sakit pinggang karena kebanyakan bekerja di kebun, ada pula anak kecil yang batuk-batuk karena cuaca. Semua ditangani dengan sabar. Kesehatan gratis ini bukan sekadar layanan, tapi juga jembatan untuk saling mengenal dan percaya. Letkol Inf Iskandar, sang Danyonif, meyakini bahwa kehadiran yang tulus adalah kunci. "Kalau kita dekat, warga tidak sungkan cerita. Masalah kesehatan atau apa pun, kita bisa selesaikan bareng," ujarnya lirih.
- Pemeriksaan tensi darah dan gula untuk mencegah penyakit diam-diam.
- Konsultasi keluhan ringan seperti demam, batuk, dan nyeri otot.
- Edukasi hidup bersih — cuci tangan dengan sabun, jaga kebersihan lingkungan.
- Kesempatan ngobrol santai, bikin hubungan prajurit dan warga makin akrab.
Benih Kerukunan dari Kampung Sosiri
Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah bagian dari binaan wilayah yang nyata, di mana prajurit tak hanya menjaga keamanan, tapi juga merawat kesejahteraan. Warga Kampung Sosiri yang biasanya sibuk berkebun atau berdagang, hari itu punya waktu untuk berhenti dan merawat diri. "Saya baru pertama kali periksa gratis begini. Enak, mbak, nggak ada jarak. Prajuritnya ramah-ramah," ujar Ibu Maria sambil tersenyum. Dari anak-anak hingga orang tua, antusiasme terpancar jelas. Mereka pulang dengan resep obat dan semangat baru untuk hidup sehat.
Di balik sederhana tenda itu, ada harapan yang ditanam. Yonif TP 810/BEM hadir bukan untuk menggurui, tapi untuk bersama. Setiap kali tensimeter dipasang, setiap kali nasihat sehat diberikan, itu adalah investasi untuk kerukunan dan kepercayaan. Kampung Sosiri mungkin kecil, tapi aksi ini mengingatkan kita bahwa kesehatan adalah milik semua, tanpa mahal atau murah. Saat mentari mulai naik, satu per satu warga pamit pulang. Tapi yang pasti, di hati mereka, ada rasa hangat yang terus tersisa — bahwa prajurit adalah sahabat, bukan sekadar seragam.