Matahari pagi baru saja mulai menghangatkan udara di Kampung Obano, Kabupaten Paniai. Di balik kabut tipis yang masih menyelimuti perbukitan, kehidupan para petani telah bergerak. Mereka memetik wortel yang merah segar, sawi yang hijau lebat, dan kangkung yang baru dipanen dari kebunnya sendiri. Suasana tenang ini tiba-tiba diramaikan oleh langkah tegap sekelompok prajurit. Bukan sekadar patroli rutin, kedatangan Satgas Marinir pagi itu membawa sesuatu yang berbeda—sebuah senyum dan harapan baru untuk warga.
Ketika Prajurit Datang Langsung ke Kebun: ROSITA Memudahkan Hidup Petani
Program yang mereka bawa bernama ROSITA, akronim yang hangat untuk “borong hasil tani”. Alih-alih hanya melewati jalan desa, para prajurit ini sengaja membelokkan langkah mereka menuju hamparan kebun. Di sana, mereka langsung bertemu dengan Pak Helmi dan petani lainnya. “Ini seperti angin baik,” ujar Pak Helmi dengan wajah berseri, tangannya masih penuh tanah subur dari kebunnya. Program ROSITA memungkinkan para prajurit membeli sayuran langsung dari tangan petani. Transaksi jual beli ini terjadi tepat di tempat sayuran itu tumbuh, menghilangkan segala kerumitan bagi petani. Bayangkan, petani tidak perlu lagi memikul beban ongkos angkutan atau khawatir hasil panennya layu di perjalanan menuju pasar yang jauh. Inilah bentuk nyata dari bantu petani yang penuh martabat.
Komandan Satgas, Letkol Marinir Helilintar Setiojoyo Laksono, menuturkan bahwa tujuan utamanya adalah membawa manfaat yang benar-benar terasa. Membeli langsung bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan cara membangun obrolan dan kedekatan. Program ini telah memberikan dampak yang hangat bagi kehidupan warga Obano:
- Petani mendapat harga yang pantas tanpa harus memotongnya untuk ongkos naik angkutan ke pasar.
- Hasil bumi yang masih segar langsung terserap, sehingga sayuran tidak sempat layu atau busuk di perjalanan.
- Terjalin obrolan dan interaksi langsung yang menghangatkan hubungan antara prajurit dan warga.
- Perekonomian keluarga petani bergerak lebih lancar, membawa senyuman dan harapan baru untuk hari esok.
Patroli yang Membawa Tawa: Senyum Anak-anak Menyambut di Setiap Persimpangan
Namun, kisah hangat di Obano tidak hanya berpusat di kebun. Saat rombongan patroli melanjutkan perjalanan melintasi pemukiman warga, gemuruh tawa riang mulai terdengar. Sekelompok anak-anak kampung dengan polosnya mendekat, matanya penuh rasa ingin tahu. Spontan, para prajurit mengeluarkan permen warna-warni dari tas mereka. Dalam sekejap, wajah-wajah mungil itu berseri, dipenuhi senyum lebar dan mata yang berbinar. Ada seorang bocah bernama Kaleb yang berbisik penuh harap, “Ajarin aku jadi tentara yang baik seperti om-om ya.” Momen sederhana ini mengukir kenangan indah, membuktikan bahwa keamanan juga dibangun dari perhatian tulus dan sentuhan kasih untuk generasi penerus.
Program yang memadukan tugas operasional dengan sentuhan kemanusiaan ini memberikan pelajaran berharga. Di tanah Papua yang elok ini, menjaga kedamaian dan merawat hati rakyat adalah dua sisi mata uang yang sama. Setiap langkah prajurit di Obano meninggalkan jejak kebaikan—mulai dari tas yang penuh hasil bumi hingga saku seragam yang menyimpan permen untuk senyum anak-anak. Mereka tidak lagi sekadar tampil sebagai penjaga keamanan, tetapi telah menjelma menjadi sahabat, pembeli setia dari hasil borong hasil tani, dan pelindung bagi setiap keluarga di pelosok negeri. Inilah wujud nyata dari kedekatan teritorial yang sebenarnya: hadir, mendengar, dan terlibat langsung dalam denyut kehidupan warga.