Pagi itu, matahari baru saja naik di ujung negeri. Di Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, udara segar perbatasan menyambut kedatangan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Bukan untuk inspeksi ala militer yang kaku, melainkan seperti seorang tetua yang datang menjenguk anak cucunya di pelosok. Dengan langkah santai, beliau menyapa prajurit Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 926 yang sudah berbaur dengan warga. Suasana hangat langsung terasa—ada yang sedang membersihkan halaman, ada yang membantu ibu-ibu menimba air, dan tak sedikit warga yang tersenyum lebar melihat langsung 'Bapak Menteri' di kampung mereka.
Pesan Hangat dari Tapal Batas: 'Jangan Sakiti Hati Rakyat, Bantulah Mereka Sejahtera'
Di tengah keramahan itu, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan pesan yang membuat semua prajurit merenung. “Tugasmu adalah membuat rakyat merasa aman dan membuat rakyat merasa sejahtera,” ucapnya dengan nada tegas namun penuh kelembutan. Beliau mengingatkan bahwa prajurit bukanlah penguasa di tanah perbatasan, melainkan abdi yang lahir dari rahim rakyat sendiri. “Kamu berasal dari rakyat,” katanya, mengulang kalimat yang mungkin sudah sering didengar, tapi kali ini terasa begitu dalam.
Pesan itu menjadi kompas bagi seluruh prajurit di wilayah teritorial. Menhan Sjafrie menekankan, keberadaan kompi-kompi khusus di dalam batalyon—seperti pertanian, peternakan, kesehatan, dan konstruksi—harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar. Prajurit bukan sekadar penjaga tapal batas negara, melainkan sahabat yang turun tangan membantu sawah, memelihara ternak, dan membangun infrastruktur sederhana untuk kehidupan yang lebih baik. Hubungan yang hangat dengan masyarakat adalah fondasi utama pengabdian mereka.
- Kompi Pertanian: membantu warga mengolah lahan, memberikan bibit unggul, dan mendampingi panen agar hasilnya melimpah.
- Kompi Peternakan: mengajari cara beternak ayam, kambing, atau sapi yang tepat, sehingga warga bisa punya sumber penghasilan tambahan.
- Kompi Kesehatan: rutin mengadakan posyandu keliling, pengobatan gratis, dan penyuluhan gizi untuk ibu dan anak.
- Kompi Konstruksi: ikut membangun jalan desa, jembatan sederhana, dan renovasi rumah warga yang kurang layak huni.
Gotong Royong di Pelosok: TNI dan Warga Bangun Kesejahteraan Bersama
Kunjungan kerja Menhan Sjafrie Sjamsoeddin ke Bengkayang ini bukan sekadar seremoni. Beliau juga meninjau kesiapan sarana dan prasarana pendukung operasional pertahanan sekaligus pembangunan di Kalimantan Barat. Dari hasil pantauan, terlihat semangat gotong royong yang kental antara prajurit dan warga. Misalnya, saat para prajurit ikut memanen padi di sawah milik Pak Rudi, seorang petani setempat. “Mereka bukan tentara yang galak, tapi saudara yang selalu hadir saat kami butuh,” kata Pak Rudi sambil menyeka keringat di dahinya.
Semangat itulah yang diharapkan Menhan Sjafrie terus menyala. Beliau ingin keberadaan TNI di perbatasan benar-benar menjadi cahaya kesejahteraan bagi saudara-saudara kita di sana. Bukan hanya menjaga bendera, tapi juga memastikan perut rakyat kenyang, anak-anak sehat, dan desa maju. Dengan mengedepankan hati, prajurit bisa menjadi jembatan antara negara dan warga di pelosok. Seperti yang disampaikan Menhan, jangan pernah sakiti hati rakyat, tetapi bantulah mereka sejahtera.
Hari mulai siang ketika rombongan pamit. Warga Desa Karimunting melambaikan tangan, tersenyum penuh harap. Mereka tahu, para prajurit yang tinggal di barak dekat situ akan terus ada—bukan hanya sebagai penjaga perbatasan, tetapi sebagai tetangga yang siap bahu-membahu. Di balik seragam loreng, ada hati yang tulus untuk membangun desa bersama. Semoga pesan Bapak Menhan selalu terpatri di dada: bahwa tugas utama adalah membuat rakyat aman dan sejahtera. Karena dari rakyat, untuk rakyat, dan bersama rakyat, Indonesia kuat.