Di sudut Kalimantan Barat, di Desa Pala Kota, Kabupaten Kapuas Hulu, udara kemarau mulai terasa kering. Namun kehangatan justru terasa ketika tim dari Markas Besar TNI turun ke pelosok. Mereka tidak datang dengan seragam kaku atau daftar instruksi, melainkan membawa semangat kebersamaan untuk duduk bersama masyarakat adat. Letkol Beny dan para personelnya menggelar pertemuan yang tak ubahnya seperti obrolan di teras rumah—penuh tawa, saling sapa, dan tentu saja, hati yang terbuka untuk mendengar.
Menjaga Hutan, Menghormati Kearifan Lokal
Dialog itu mengusung isi penting: sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di musim kemarau. Dengan bahasa yang sederhana dan penuh empati, Letkol Beny menyampaikan imbauan kepada warga untuk menunda pembakaran lahan. Namun, cara penyampaiannya tidak menggurui. Beliau bahkan membuka ruang bagi aspirasi dari para tetua adat dan tokoh masyarakat. “Kami paham betul bahwa membuka lahan dengan cara tradisional sudah menjadi kebiasaan turun-temurun,” ujarnya, “tapi mari kita cari jalan tengah yang tidak mengorbankan lingkungan dan kesehatan.”
Suasana semakin hangat ketika Kepala Desa Pala Kota, Aki, angkat bicara. Dengan penuh hormat, beliau mengingatkan agar hak-hak adat tetap dilindungi, seperti yang dijamin konstitusi. “Negara harus hadir dan menghormati kami yang hidup selaras dengan alam,” katanya tegas namun santun. Pertukaran pemikiran ini menjadi bukti bahwa sosialisasi yang baik bukanlah satu arah, melainkan percakapan yang saling menghargai.
Jembatan Komunikasi antara Pusat dan Desa
Kehadiran TNI di pelosok bukan hanya soal jaga keamanan, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan program pemerintah dengan kearifan lokal. Lewat pertemuan seperti ini, banyak manfaat yang dirasakan warga:
- Terciptanya rasa saling percaya antara aparat dan masyarakat adat.
- Aspirasi warga didengar langsung oleh perwakilan pusat, bukan sekadar laporan tertulis.
- Pencegahan karhutla menjadi lebih efektif karena dilandasi kesadaran bersama, bukan paksaan.
- Nilai-nilai gotong royong dan musyawarah semakin kuat di desa.
Lewat dialog terbuka itu, semua pihak pulang dengan hati lapang. Letkol Beny dan tim TNI mendapatkan gambaran nyata kehidupan di pedalaman, sementara warga merasa dihargai dan dilibatkan. Inilah yang disebut kedekatan teritorial—bukan dari jarak, tapi dari kedekatan batin dan saling pengertian.
Hari itu, di Desa Pala Kota, hembusan angin kemarau terasa lebih sejuk. Bukan karena cuaca berubah, melainkan karena hati-hati yang bertaut dalam kebersamaan. Semoga semangat saling mendengar ini terus hidup, bukan hanya di musim kemarau, tapi di setiap langkah pembangunan desa. Karena pada akhirnya, menjaga hutan dan menghormati adat adalah dua sisi dari satu koin: kehidupan yang lestari untuk anak cucu kita.