Malam itu, tepatnya 15 Oktober 2026, Desa Long Midang yang berada di perbatasan Kalimantan Utara–Malaysia berubah total. Warga yang selama puluhan tahun hanya ditemani lampu minyak dan dengung genset, akhirnya menyaksikan keajaiban dengan mata kepala sendiri: aliran listrik resmi menyala. Teriakan gembira dan syukur pecah dari rumah-rumah kecil yang sejak dulu hanya diterangi temaram pelita. Bagi warga, malam ini bukan sekadar malam biasa — ini adalah malam di mana mimpi yang sudah lama terpendam akhirnya menjadi nyata. Dari lampu minyak ke cahaya listrik, desa di ujung negeri ini akhirnya merasakan sentuhan energi yang selama ini hanya menjadi angan-angan.
Dari Pelita ke Cahaya: Mimpi yang Akhirnya Menyala
Bapak Ridan, Kepala Desa Long Midang, tak bisa menyembunyikan harunya saat bercerita tentang perubahan besar ini. “Ibu-ibu sekarang bisa memasak dengan rice cooker, anak-anak bisa belajar di malam hari dengan penerangan yang cukup. Ini benar-benar mimpi yang jadi nyata,” tuturnya dengan suara sedikit bergetar. Selama ini, anak-anak desa harus belajar di bawah cahaya lampu minyak yang remang-remang, bahkan sebagian memilih berhenti belajar begitu matahari terbenam karena tak sanggup menahan gelap. Kini, berkat kerja sama yang hangat antara TNI, PLN, dan Pemerintah Daerah, listrik desa di kawasan 3T ini akhirnya hadir. Program pembangunan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar ini tidak hanya menerangi rumah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat warga untuk bekerja dan berkarya. Berbagai cerita bahagia mulai bermunculan:
- Ibu-ibu kini bisa memasak dengan rice cooker dan menyimpan lauk di kulkas, tanpa khawatir cepat basi.
- Anak-anak sekolah dapat mengerjakan tugas di malam hari dengan lampu yang terang dan nyaman bagi mata.
- Usaha kecil warga, seperti pengolahan hasil hutan dan perikanan, mulai bisa berjalan lebih lama dan produktif.
- Posyandu dan balai desa pun ikut terang, memudahkan kegiatan masyarakat di malam hari.
Gotong Royong Membangun Terang di Ujung Perbatasan
Dansatgas Perbatasan menegaskan bahwa program listrik desa ini adalah prioritas untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perbatasan. “Ini bukan sekadar pemasangan kabel dan tiang. Ini adalah bentuk kedekatan kami dengan warga, bahwa negara hadir untuk menerangi kehidupan saudara-saudara kita di ujung perbatasan,” ujar Dansatgas. Semangat gotong royong pun terasa kental selama proses pembangunan. Warga bergotong royong membantu mengangkat tiang listrik, membersihkan jalur kabel, dan menjaga kelancaran kerja para petugas. Semua tahu, ini bukan pekerjaan orang lain — ini pekerjaan kita bersama. Energi yang mengalir bukan hanya listrik, tapi juga rasa kebersamaan yang kuat.
Kebahagiaan malam pertama dengan terang tentu menjadi kenangan manis yang tak mudah dilupakan. Setelah itu, warga berjanji akan menjaga infrastruktur listrik yang telah dibangun dengan baik. “Listrik ini titipan besar untuk kami. Harus kami jaga sebaik mungkin agar terus bermanfaat bagi anak cucu,” ujar seorang warga dengan mata berkaca-kaca. Dengan lampu-lampu yang kini menyala setiap malam, Desa Long Midang tidak lagi sunyi dan gelap. Anak-anak bisa bermain dan belajar, ibu-ibu bisa memasak dengan senang, dan bapak-bapak bisa melanjutkan usaha kecil mereka. Semua berkat hadirnya energi yang membawa terang, tidak hanya di rumah, tapi juga di hati. Inilah bukti bahwa negara hadir, bahwa kita semua bersaudara, dan bahwa mimpi yang dipupuk bersama akan selalu menjadi nyata.