Di lereng Pegunungan Wilis yang hijau dan menjulang, Desa Semanding, Kecamatan Sampung, Ponorogo, punya cerita baru yang hangat. Setiap pagi, para petani kopi, jagung, dan sayuran biasa berjalan kaki menanjak dengan beban berat di pundak. Jalan setapak licin dan berbatu jadi tantangan harian. Tapi kini, senyum mulai merekah. Anggota Koramil 0801/Ponorogo turun tangan, bergandengan tangan dengan warga, membangun jalan usaha tani sepanjang 2 kilometer.
Jalan Usaha Tani: Impian Petani Kopi Jadi Nyata
Pak Karyo (60), petani kopi yang sudah puluhan tahun menggarap lahan di lereng, tak bisa menyembunyikan harunya. "Dulu, kami harus memikul karung kopi seberat 50 kilogram dengan jalan kaki hampir satu jam. Sekarang, dengan jalan ini, biaya transportasi bisa ditekan hingga 50 persen," ujarnya sambil tersenyum. Jalan usaha tani ini bukan sekadar aspal dan batu, melainkan jembatan penghubung antara jerih payah di kebun dan pasar. Kini, hasil bumi seperti kopi robusta, jagung, dan sayuran bisa diangkut menggunakan gerobak atau motor roda tiga. Tak hanya memangkas waktu, jalan ini juga membuka akses bagi penyuluh pertanian untuk masuk lebih mudah. Kegiatan penyuluhan pertanian pun digelar di sela-sela kerja bakti, menambah pengetahuan warga tentang teknik budidaya yang lebih baik.
- Biaya transportasi turun drastis – dari yang sebelumnya mahal karena harus menyewa tenaga pikul, kini bisa dihemat hingga separuhnya.
- Akses pasar lebih cepat – hasil panen tak lagi membusuk di perjalanan, karena waktu tempuh berkurang signifikan.
- Semangat gotong royong – anak muda desa ikut serta, membuktikan bahwa kebersamaan lintas generasi masih kuat.
Gotong Royong TNI-Warga, Bukti Kedekatan Teritorial
Pembangunan jalan ini dipimpin langsung oleh Danramil 0801/Ponorogo, Kapten Inf Sugeng Riyadi. Selama seminggu, ia dan anggota Koramil lainnya tidur di tenda desa, makan bersama warga, dan bekerja dari pagi hingga petang. "Ini bukan proyek, ini panggilan hati. Kami bagian dari warga, dan warga bagian dari kami," ujar Sugeng dengan nada bersahaja. Suasana kerja bakti penuh semangat dan kekeluargaan. Cangkul, sekop, dan linggis bersahutan dengan tawa dan canda. Pak Karyo muda-mudi desa seperti Andi (19) yang rela bolos sekolah untuk ikut membantu, karena katanya, "Ini buat masa depan kami juga." Program kedekatan teritorial ini tidak berhenti di jalan saja. Rencananya, ke depan akan dibangun talud penahan longsor di titik-titik rawan agar jalan tetap awet dan aman.
Kisah di lereng Wilis ini mengingatkan kita bahwa pembangunan sejati lahir dari gotong royong. TNI dan warga saling bahu-membahu, menciptakan ikatan yang erat. Jalan usaha tani ini bukan hanya infrastruktur fisik, melainkan jalan harapan yang menghubungkan desa dengan masa depan yang lebih cerah. Semoga semangat kebersamaan ini terus menyala, menginspirasi desa-desa lain di Ponorogo dan sekitarnya. Karena ketika kita bergandengan tangan, tak ada lereng yang terlalu curam untuk didaki.