Pagi itu, matahari baru saja naik di balik perbukitan Desa Bulu, Temanggung. Suara ayam berkokok bersahutan dengan tawa riang para petani muda yang berkumpul di balai desa. Mereka bukan sekadar berkumpul, melainkan mengikuti pelatihan pertanian organik yang digagas oleh Kodim 0718 bersama Penyuluh Pertanian Lapangan. Selama ini, harga pupuk kimia yang mahal membuat para petani mengeluh. Namun di pagi yang hangat ini, ada secercah harapan baru yang tumbuh di hati mereka.
Petani Muda, Masa Depan Desa Bulu
Pelatihan yang berlangsung tiga hari ini diikuti oleh 30 petani muda dari Desa Bulu. Mereka belajar dengan penuh semangat, mulai dari cara membuat kompos dari kotoran kambing, meracik pestisida alami dari daun lamtoro, hingga teknik mengolah tanah tanpa campuran bahan kimia. Kapten Ardian, Pasi Teritorial Kodim 0718, menegaskan bahwa petani muda adalah tumpuan harapan desa. “Kami ingin mereka mandiri dan tidak bergantung pada pupuk mahal. Kalau bisa, semua bahan ada di sekitar kita,” ujarnya di sela-sela pelatihan.
Pelatihan ini memberi banyak manfaat yang langsung bisa dirasakan oleh para peserta, antara lain:
- Mengurangi biaya produksi pertanian secara signifikan
- Menghasilkan sayuran organik yang lebih sehat dan bernilai jual tinggi
- Melestarikan kesuburan tanah tanpa merusak lingkungan
- Membangun kemandirian petani muda dalam mengelola lahan sendiri
Dari Kotoran Kambing dan Daun Lamtoro, Hidup Jadi Lebih Hemat
Suasana hangat terlihat saat para peserta saling berbagi kisah. Ada yang bercerita tentang gagal panen, ada pula yang berbagi cara mengatasi hama tanpa obat kimia. Ibu Sri, salah satu peserta, mengaku baru pertama kali belajar membuat pupuk organik dari kotoran kambing dan daun lamtoro. “Ternyata tidak sulit dan lebih murah. Saya berterima kasih kepada Bapak-bapak TNI yang sudah mengajarkan kami bertani ramah lingkungan,” katanya dengan mata berbinar. Baginya, ilmu ini seperti harta karun yang selama ini terpendam di kebun sendiri.
Para penyuluh pertanian lapangan juga sangat sabar membimbing peserta, satu per satu. Mereka menunjukkan cara mengukur kadar air kompos, membalik tumpukan daun, dan memastikan campuran kotoran kambing benar-benar matang sebelum digunakan. Semua dilakukan dengan suka cita, tanpa menggurui. Di sela pelatihan, bau anyir kotoran kambing yang biasa dihindari justru menjadi bahan tertawaan dan keakraban. “Lambat laun, bau ini akan menjadi bau kesuksesan kita,” celetuk salah seorang peserta, disambut tawa riuh.
Program pelatihan pertanian organik ini merupakan bagian dari tugas teritorial TNI untuk hadir di tengah-tengah kesulitan rakyat. Kodim 0718 tidak hanya turun saat ada bencana, tetapi juga hadir untuk mendampingi petani muda dalam membangun desa. Kedekatan antara TNI dan warga desa terasa sekali di sini. Mereka duduk bersama di tikar, berdiskusi, bahkan ikut praktik mengaduk kompos. Inilah makna gotong royong yang hidup di desa.
Malam semakin larut, tapi semangat para petani muda tidak padam. Mereka pulang dengan membawa ilmu baru, harapan baru, dan perasaan bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Di Desa Bulu, TNI dan warga bersanding bahu-membahu menjadikan pertanian organik bukan sekadar tren, melainkan jalan hidup yang lebih ramah kepada bumi dan menguntungkan kantong. Semoga semangat ini terus menyala, dan desa-desa lain bisa mengikuti jejak baik ini. Karena ketika kita bersatu, segalanya menjadi mungkin.