Pagi itu, Desa Sukaratu di Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya, Jawa Barat, tak seperti biasanya. Lapangan desa yang biasa sepi dipenuhi oleh sekelompok petani muda yang datang dengan semangat membara. Mereka bukan sekadar petani biasa—mereka adalah anak-anak muda yang ingin mengubah nasib desa melalui cara bertani yang lebih baik. Kodim 0612/Tasikmalaya bersama Dinas Pertanian setempat menggelar pelatihan pertanian organik yang tak hanya memberi ilmu, tapi juga menghangatkan hati.
Belajar dari Tanah, Berbagi dengan Tulus
Sertu Budi, instruktur dari TNI yang juga ahli pertanian, berdiri di tengah-tengah peserta dengan senyum khasnya. Bahasanya sederhana, penuh canda, dan langsung menyentuh akar masalah. “Kita jangan terus-terusan pakai pupuk kimia, tanahnya bisa keras. Coba pakai pupuk kandang atau kompos, hasilnya lebih manis,” ujarnya, disambut tawa dan anggukan peserta. Tak hanya teori, para petani muda diajak praktik langsung membuat pupuk organik cair dari limbah rumah tangga dan tanaman. Suasana berubah menjadi begitu akrab—seperti obrolan di warung kopi, bukan sekadar kelas pelatihan.
- Peserta belajar cara membuat pupuk organik cair yang ramah lingkungan dan murah.
- Mereka juga diajak memahami pentingnya menjaga kesuburan tanah untuk panen berkelanjutan.
- Instruktur TNI dan petani muda saling berbagi cerita tentang tantangan bertani di desa.
- Program ini membangun kedekatan antara prajurit dan warga desa melalui obrolan hangat dan gotong royong.
Dari Pelatihan ke Meja Makan: Cerita di Balik Kedekatan
Salah satu peserta, Andi (22), mengaku begitu antusias mengikuti pelatihan ini. “Selama ini saya hanya ikut-ikutan orang tua, sekarang saya belajar cara bertani yang lebih modern tapi ramah lingkungan. Terima kasih TNI sudah peduli sama kami,” katanya dengan mata berbinar. Andi tak sendirian—banyak anak muda lain yang ikut menyerap ilmu dengan penuh semangat. Mereka bercita-cita menjadi petani sukses tanpa merusak alam. Program ini tak hanya memberi pengetahuan, tapi juga membangun jiwa wirausaha di kalangan petani muda.
Setelah pelatihan selesai, mereka semua duduk bersama menikmati makan siang dengan lauk sederhana. Suasana semakin hangat saat mereka berbincang tentang cita-cita, tantangan bertani, dan harapan untuk desa. Tak ada sekat antara prajurit dan warga—hanya obrolan akrab yang saling menguatkan. Kehangatan seperti inilah yang membuat program teritorial TNI terasa nyata dan menyentuh hati, tak sekadar formalitas belaka.
Pelatihan pertanian organik di Desa Sukaratu ini bukan sekadar acara sekali jalan. Ini adalah titik awal bagi generasi muda untuk bangkit dan mengelola tanah leluhur dengan cara yang lebih bijak. Dengan gotong royong dan kepedulian dari semua pihak, desa-desa di Tasikmalaya bisa menjadi lumbung pangan yang ramah lingkungan. Semoga semangat ini terus menyala di hati para petani muda—karena dari tanahlah masa depan kita tumbuh.