Senja itu, langkah kaki kecil-kecil terdengar riang menyusuri jalan setapak di Desa Long Iram, Kalimantan Timur. Anak-anak berbondong-bondong membawa tikar dan Al-Quran usang, duduk melingkar di balai desa. Di tengah mereka, seorang prajurit TNI berseragam lusuh keringat tersenyum ramah. Dialah Sertu Hasan, sosok yang dua tahun terakhir ini menjadi pemantik semangat belajar mengaji di tengah keterpencilan pedalaman Kalimantan. Suara lantunan ayat suci yang dulu hanya berbisik di masjid, kini riang memenuhi serambi balai desa, diselingi tawa anak-anak yang begitu polos.
Kedekatan di Balai Desa: Cerita dari Ujung Sungai
Desa Long Iram memang bukan tujuan mudah. Untuk sampai ke sana, warga harus menempuh perjalanan panjang menggunakan perahu motor menyusuri aliran sungai yang berkelok-kelok. Minimnya akses pendidikan, terutama pendidikan agama, menjadi keprihatinan tersendiri. Saat pertama kali ditugaskan, Sertu Hasan melihat anak-anak desa lebih banyak menghabiskan waktu bermain di pinggir sungai tanpa bekal pengetahuan agama yang memadai. Dari situlah tekadnya tumbuh untuk mengisi kekosongan itu. Setiap sore selepas tugas, ia tak pernah lupa menyiapkan alas duduk dan membuka halaman Al-Quran. Anak-anak sudah menantinya dengan wajah ceria, seolah senja adalah waktu paling istimewa untuk bertemu Bapak Guru yang satu ini.
Program Teritorial: Menyapa dari Hati ke Hati
Kedekatan yang terbangun bukan sekadar guru dan murid, melainkan layaknya kakak dan adik. Sertu Hasan selalu sabar mengulang-ulang bacaan yang sulit dipahami anak-anak, bahkan tak jarang diselingi canda tawa yang membuat suasana mengaji terasa hangat dan menyenangkan. Ketika ditanya alasannya, Sertu Hasan hanya menjawab lirih, "Saya ingin anak-anak di sini tidak buta huruf agama. Ini bentuk pengabdian saya selain menjaga kedaulatan." Baginya, menjadi TNI bukan hanya soal menjaga batas negara, tetapi juga hadir di tengah kesulitan masyarakat dan membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kebaikan hati Sertu Hasan ternyata menyentuh banyak orang. Para orang tua murid tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas kehadiran prajurit TNI yang satu ini. Pak RT setempat bahkan tak kuasa menahan haru saat menceritakannya. "Kami bersyukur ada Pak TNI yang sabar mengajari anak-anak. Semoga kebaikan beliau dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Berkat kegigihan Sertu Hasan, perlahan namun pasti, anak-anak di Desa Long Iram mulai lancar mengaji. Berbagai manfaat pun dirasakan oleh seluruh warga:
- Anak-anak menjadi lebih paham dan lancar membaca Al-Quran dengan tajwid yang benar.
- Mereka mampu menghafal surat-surat pendek serta doa harian yang dulu hanya sedikit mereka ketahui.
- Hadirnya sosok TNI sebagai guru ngaji membuat anak-anak memiliki panutan baru dalam bersikap dan berakhlak mulia.
- Kegiatan mengaji di balai desa mampu mengalihkan perhatian anak-anak dari kebiasaan kurang bermanfaat di pinggiran sungai.
Di tengah keterbatasan, cerita hangat ini menjadi bukti bahwa kehadiran seorang prajurit bisa membawa cahaya bagi siapa saja yang membutuhkan. Sertu Hasan mungkin hanya satu dari sekian banyak prajurit yang bertugas di pedalaman Kalimantan, tetapi ketulusannya telah menanamkan akar kebaikan yang akan tumbuh lama setelah tugasnya berakhir. Warga Desa Long Iram pun kini punya harapan baru, bahwa masa depan anak-anak mereka akan lebih cerah dengan bekal iman dan ilmu yang diajarkan setiap senja. Dan ketika esok tiba, anak-anak itu akan kembali berlari menuju balai desa, menantikan sosok prajurit yang tak pernah lelah mengajar — karena di sana, di sudut desa yang sunyi, TNI dan rakyat selalu bersatu dalam kehangatan yang tak pernah padam.