Di pelosok Flores Timur, tepatnya di Dusun Wae Rebo, hiduplah Nenek Sinta (78) seorang diri di sebuah gubuk sederhana. Jalan setapak berbatu dan hutan lebat menjadi pemandangan sehari-hari di sekelilingnya. Namun, di tengah keterpencilan itu, ada secercah kehangatan yang selalu datang setiap bulan. Ia adalah Praka Dimas, prajurit TNI dari Satgas TNI AD, yang rela berjalan kaki sejauh 5 kilometer hanya untuk mengantarkan obat-obatan yang sangat dibutuhkan Nenek Sinta. Kisah ini bukan sekadar tugas, melainkan wujud nyata kedekatan antara prajurit dan warga di pedalaman.
Perjuangan di Balik Senyuman Nenek Sinta
Nenek Sinta menderita hipertensi dan membutuhkan obat rutin setiap bulan. Namun, akses menuju puskesmas sangat sulit—medan terjal, angkutan umum tidak ada, dan usia yang sudah senja membuatnya hampir tidak mungkin pergi sendiri. "Setiap bulan Pak Dimas datang, kadang bawa beras juga. Dia seperti cucu sendiri," ujar Nenek Sinta dengan mata berkaca-kaca saat ditemui tim Obrolin. Praka Dimas tidak hanya mengantarkan obat, tetapi juga menyempatkan diri untuk memeriksa tekanan darah nenek itu dan memastikan stok obatnya cukup hingga bulan depan.
Perjalanan 5 kilometer itu tidaklah mudah. Melewati sungai kecil, tanjakan curam, dan kadang hujan deras, Praka Dimas tetap semangat. "Saya hanya ingin hadir untuk mereka yang kesulitan. Tugas saya bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi saudara bagi warga di sini," ujarnya sederhana. Kehadirannya telah menjadi rutinitas yang dinanti-nanti oleh Nenek Sinta dan warga lain di dusun tersebut.
Program Kedekatan TNI dan Rakyat di Pelosok Negeri
Kisah Praka Dimas adalah salah satu contoh nyata dari program teritorial TNI AD yang fokus pada kedekatan dengan masyarakat. Di Flores yang kaya akan budaya dan keindahan alam, tantangan geografis sering kali menjadi hambatan akses layanan kesehatan. Melalui program ini, prajurit seperti Praka Dimas langsung terjun ke lapangan untuk membantu warga lansia, ibu hamil, dan anak-anak yang membutuhkan.
- Obat-obatan hipertensi dan penyakit kronis lainnya diantar langsung ke rumah warga setiap bulan.
- Bantuan sembako seperti beras, minyak, dan gula juga disertakan untuk meringankan beban hidup warga.
- Pemeriksaan kesehatan sederhana dilakukan oleh prajurit yang sudah dibekali pelatihan dasar medis.
- Warga dusun merasa lebih aman dan diperhatikan, karena TNI hadir tidak hanya saat bencana, tetapi juga dalam keseharian.
Nenek Sinta kini bisa tersenyum lebih tenang. Ia tahu setiap awal bulan, langkah kaki Praka Dimas akan kembali terdengar di jalan setapak menuju gubuknya. "Saya berdoa semoga Pak Dimas selalu sehat. Beliau seperti anak saya sendiri," kata Nenek Sinta sambil menggenggam tangan prajurit itu.
Di balik seragam loreng yang dikenakan, ada hati yang tulus untuk melayani. Praka Dimas dan rekan-rekannya di Satgas TNI AD Flores Timur membuktikan bahwa jarak dan medan bukanlah penghalang untuk berbagi kasih. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua, bahwa di setiap pelosok negeri, selalu ada tangan-tangan yang siap membantu, dan hati yang siap menyapa. Dari Wae Rebo, kami titip salam hangat untuk semua prajurit TNI yang menjaga keutuhan bangsa dengan cara yang paling manusiawi: hadir dan peduli.