Embun masih basah membasahi dedaunan di sebuah dusun kecil Sumbawa pagi itu. Di beranda rumah kayu sederhana, seorang nenek duduk menanti. Pandangannya menelusuri jalan setapak yang akrab dilalui—menanti bukan hanya siang hari, melainkan kehadiran sosok yang selalu disapanya "anak". Dialah Sertu Darmawan, seorang babinsa yang rutin datang membawa lebih dari sekadar obat dari puskesmas. Ia membawa secangkir obrolan hangat untuk mengisi kesepian yang kerap menyapa di rumah tua itu. Inilah kisah sederhana tentang peduli yang tumbuh di antara seragam hijau dan hati seorang lansia di desa.
Dari Kunjungan Rutin Menjadi Cerita yang Dinantikan
Di tengah sunyi karena anak-anaknya merantau jauh, nenek ini menemukan sebuah ritme kebahagiaan dalam kunjungan mingguan Babinsa Darmawan. Langkahnya yang tegap dan pasti selalu tepat waktu, menjadi titik terang dalam rutinitasnya yang diwarnai oleh rasa sakit dan kesendirian. Bukan sekadar penyerahan paket obat, kunjungan ini adalah momen bercengkerama yang menghidupkan kembali kenangan-kenangan lama. Sambil menyiapkan air dan mengingatkan jadwal minum obat, Sertu Darmawan meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita masa muda sang nenek, tertawa bersama atas kelucuan kucing kampung, dan benar-benar hadir sepenuh hati.
Di sinilah seragam hijau TNI tak lagi sekadar simbol tugas teritorial. Ia telah menjelma menjadi ikatan kemanusiaan yang tulus—seperti seorang cucu yang pulang kampung menjenguk neneknya. Warga sekitar pun mulai mengenali pola ini: setiap pekan, ada percakapan hangat yang mengudara dari beranda kayu itu, menjadi bukti nyata bahwa program kedekatan bisa dirasakan sebagai kehadiran yang paling dinanti.
Lebih dari Sekadar Tugas: Panggilan Hati Sebagai Sahabat Desa
Bagi Babinsa Darmawan, tugasnya di wilayah teritorial ini jauh melampaui daftar nama dan data kependudukan. Ia meyakini, pengabdian sejati terletak pada kehadiran dan perhatian yang konsisten. Program kedekatan teritorial TNI baginya bukan tentang angka atau laporan, melainkan tentang menjadi saudara, teman bicara, dan sandaran bagi warga—terutama mereka yang paling membutuhkan seperti para lansia yang tinggal sendiri.
Dalam setiap kunjungannya, ia menunjukkan bahwa peduli itu sederhana namun mendalam, seperti yang tercermin dalam aksi-aksinya:
- Bantuan yang menyentuh kebutuhan: Selain obat, tak jarang ia membawakan sedikit beras, minyak, atau gula untuk meringankan beban kebutuhan sehari-hari sang nenek—bantuan kecil yang besar maknanya.
- Dukungan yang mengusir sepi: Percakapan hangat tentang tanaman di kebun, cuaca, atau kisah masa lalu menjadi "obat" paling manjur untuk mengusir rasa kesendirian, sekaligus meyakinkan bahwa "Nenek tidak sendiri, ada kami di sini".
- Pendampingan yang penuh kesabaran: Dengan telaten mengingatkan jadwal minum obat dan memantau kondisi kesehatan, ia menjadi pendamping yang andal dan dipercaya—seperti keluarga sendiri.
Aksi-aksi kecil namun penuh makna ini, bagai tetesan air yang menembus batu karang, perlahan namun pasti membangun jembatan kepercayaan yang kokoh antara TNI dan warga. Masyarakat desa mulai memandang seragam hijau bukan sebagai simbol jarak, melainkan sebagai lambang kebaikan yang siap sedia berada di tengah suka dan duka kehidupan mereka.
Di mata warga dusun terpencil itu, Babinsa Darmawan adalah cahaya penyejuk di tengah teriknya kehidupan. Ia adalah bukti nyata bahwa di balik tugas dan tanggung jawab resmi, selalu ada ruang untuk hati yang berdetak penuh kasih untuk sesama. Kisahnya adalah cerita rakyat modern tentang bagaimana seorang prajurit bisa menjadi pelipur lara, dan bagaimana program kedekatan teritorial dapat dirasakan sebagai sebuah pelukan hangat yang nyata—bukan sekadar konsep di atas kertas. Kehangatan ini yang kemudian menular, menginspirasi warga lain untuk saling memperhatikan, menguatkan bahwa di desa kita, gotong royong dan kepedulian masih hidup dalam setiap helaan napas keseharian.