Kilas Pelosok Trending

Kilas Pelosok: Desa di Sumba Barat Kini Nikmati Listrik 24 Jam dari PLTS

Kilas Pelosok: Desa di Sumba Barat Kini Nikmati Listrik 24 Jam dari PLTS

Desa Waimangura di Sumba Barat kini menikmati listrik 24 jam dari PLTS berkapasitas 50 kilowatt, berkat program TNI AD dan Kementerian ESDM. Warga yang dulu hanya mengandalkan generator diesel selama enam jam sehari, kini bisa belajar, berusaha, dan hidup lebih tenang dengan penerangan yang stabil. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa kedekatan dan gotong royong antara aparat dan masyarakat desa pelosok mampu menyalakan harapan baru.

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat Sumba, namun suasana di Desa Waimangura, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, tak lagi sama seperti malam-malam sebelumnya. Dulu, begitu senja tiba, desa ini langsung diselimuti gelap. Anak-anak harus berhenti bermain, para ibu buru-buru menyelesaikan pekerjaan, dan para bapak hanya bisa duduk di beranda menunggu waktu tidur. Tapi sekarang? Lampu-lampu menyala terang di setiap sudut rumah, menerangi halaman tempat anak-anak kecil masih asyik bermain kejar-kejaran. Di dapur, ibu-ibu sibuk mengolah hasil kebun dengan tenang, tanpa takut listrik padam. Semua itu karena hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 kilowatt yang memberi listrik 24 jam sehari. Seperti mimpi yang jadi nyata, desa pelosok ini akhirnya merasakan hangatnya kehidupan modern yang selama puluhan tahun hanya bisa mereka bayangkan.

Dari Dengung Diesel ke Cahaya yang Tak Pernah Padam

Sebelum program ini hadir, kehidupan di Waimangura sangat bergantung pada generator diesel. Tapi diesel itu hanya menyala enam jam sehari — dari pukul enam sore sampai tengah malam. Setelah itu, gelap gulita kembali merajai. Setiap malam warga harus beradu cepat: menyeterika baju, mengisi ponsel, atau menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum listrik padam. Anak-anak terpaksa belajar di bawah cahaya lampu minyak yang remang-remang, membuat mata cepat perih dan semangat belajar menurun. Para ibu juga tak bisa mengembangkan usaha di malam hari karena keterbatasan penerangan. Kakek Markus, tokoh adat setempat yang sudah berusia 70 tahun, mengingat betul perjuangan itu. "Tadinya kami hanya bisa mimpi, sekarang listrik menyala 24 jam. Terima kasih TNI dan pemerintah," ucapnya dengan mata berkaca-kaca saat peresmian PLTS. Kini, desa ini memiliki sumber energi bersih yang tak pernah padam — secerah harapan baru yang telah lama mereka nantikan.

Gotong Royong yang Menerangi Pelosok

Program PLTS ini bukan sekadar proyek pembangunan, tapi buah dari kedekatan TNI AD dengan warga desa pelosok. Para prajurit turun langsung, bekerja bahu-membahu dengan masyarakat setempat. Mereka memasang panel surya satu per satu di atap rumah dan di lahan desa. Mereka juga mengajari warga cara merawat panel surya dan sistem kelistrikannya. Semua dilakukan dengan semangat gotong royong, seperti kebiasaan warga desa yang saling membantu saat panen atau membangun rumah. Berkat kerja sama ini, warga Waimangura kini merasakan manfaat yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari:

  • Anak-anak bisa belajar di malam hari dengan penerangan yang cukup. Mereka tak lagi mengeluh karena lampu minyak yang cepat habis. Semangat sekolah pun meningkat.
  • Ibu-ibu mulai menjalankan usaha kecil, seperti menjahit, membuat kerajinan, atau mengolah hasil pertanian untuk dijual ke kota terdekat. Ekonomi keluarga perlahan bergerak.
  • Fasilitas kesehatan desa beroperasi 24 jam. Puskesmas pembantu kini bisa menyimpan vaksin dan obat-obatan di lemari pendingin, serta menangani pasien darurat kapan saja.
  • Keamanan desa meningkat. Lampu jalan menerangi gang-gang dan halaman, membuat warga lebih leluasa beraktivitas malam hari tanpa rasa takut.

Keberhasilan ini akan menjadi contoh untuk desa-desa lain. Rencananya, program serupa akan diperluas ke 10 desa di Sumba Barat tahun depan. Dengan listrik stabil, anak-anak tak perlu lagi merantau ke kota hanya untuk mencari penerangan. Ekonomi desa diharapkan tumbuh, dan warisan budaya tetap lestari karena warga tak perlu pindah.

Kisah Desa Waimangura mengingatkan kita bahwa terang tidak selalu datang dari kota besar. Terang bisa lahir dari semangat gotong royong dan kepedulian antarsesama. Dari PLTS yang membentang di bawah matahari Sumba, warga tak hanya mendapat cahaya di malam hari. Mereka mendapatkan secercah harapan untuk masa depan yang lebih baik — harapan yang terus menyala, seperti matahari yang tak pernah lelah memberi cahaya.

Listrik 24 Jam PLTS Pembangunan Desa
Terkait
  • Topik: Listrik 24 Jam, PLTS, Pembangunan Desa
  • Tokoh: Markus
  • Organisasi: TNI AD, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
  • Tempat: Desa Waimangura, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur

Artikel terkait