Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Pulau Sumba, namun suasana di Desa Wonda tak lagi diselimuti kegelapan seperti dulu. Kini, ketika malam tiba, rumah-rumah warga bersinar terang, lampu-lampu menyala tanpa henti selama 24 jam. Anak-anak bisa belajar dengan nyaman, ibu-ibu sibuk menjahit dan memasak, dan bapak-bapak berkumpul sambil menikmati secangkir kopi. Semua ini berkat program teritorial TNI Angkatan Darat yang membangun pembangkit listrik tenaga surya komunal dan mikrohidro di desa terpencil di NTT ini.
Dari Gelap Menuju Terang: Gotong Royong yang Mengubah Segalanya
Proyek ini tidak berjalan sendiri. Letnan Dua Inf Rizky Pratama, yang memimpin langsung program, bercerita bahwa sejak awal warga desa dilibatkan dalam setiap tahap. “Kami bersama-sama membersihkan lokasi, mengangkut panel surya secara manual karena akses jalan yang sulit. Ini milik bersama, maka perawatannya juga tanggung jawab bersama,” ujarnya dengan bangga. Gotong royong menjadi kunci utama. Warga tak hanya menerima bantuan, tetapi ikut mengurus sumber energi baru milik desa mereka. TNI AD hadir bukan sebagai pemberi, melainkan sebagai saudara yang bekerja bahu-membahu.
Listrik Bukan Sekadar Cahaya, Tapi Harapan Baru
Bagi Mama Theresia, seorang ibu rumah tangga, listrik telah mengubah segalanya. Ia tak kuasa menahan air mata saat bercerita, “Anak-anak bisa belajar di malam hari dengan terang. Saya bisa menjahit dan membuat kue untuk dijual. Listrik mengubah hidup kami. Kami tidak akan melupakan kebaikan TNI.” Manfaat yang dirasakan warga Desa Wonda sangat nyata:
- Anak-anak dapat belajar setiap malam tanpa khawatir kehabisan minyak lampu.
- Ibu-ibu bisa menjalankan usaha kecil-kecilan seperti menjahit dan membuat kue, meningkatkan ekonomi keluarga.
- Penerangan jalan dan rumah membuat lingkungan lebih aman dan nyaman.
- Ketersediaan energi listrik mendorong kegiatan sosial dan keagamaan di malam hari.
Kisah Desa Wonda menjadi contoh nyata bagaimana kebersamaan dan kerja keras mampu mengubah sebuah pelosok menjadi terang benderang. TNI AD dan warga desa telah membuktikan bahwa listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan simbol harapan dan gotong royong. Semoga program serupa terus menyebar ke desa-desa lain di NTT dan seluruh Indonesia, sehingga tak ada lagi desa yang harus bergelap di malam hari. Karena terang itu milik kita semua.