Pagi di Desa Tarung, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, selalu dimulai dengan suara palu tukang dan gemerisik ayam berkokok. Rumah-rumah desa adat beratap alang-alang berdiri kokoh, menjadi saksi bisu tradisi megalitik yang masih hidup. Namun, selama bertahun-tahun, jalan setapak berbatu tajam menjadi tembok pemisah antara desa ini dengan dunia luar. Wisatawan yang penasaran dengan keunikan budaya Sumba seringkali mengurungkan niat begitu melihat kondisi akses yang terjal dan becek saat hujan. Bedanya, sejak akhir September 2026, semua itu mulai berubah.
Jalan Mulus Hadir, Wisatawan Mulai Berdatangan
Ratusan warga dan aparat TNI berjibaku selama berminggu-minggu. Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-132, ruas jalan aspal sepanjang 10 kilometer yang menghubungkan Desa Tarung dengan pusat kecamatan akhirnya mulus. Peresmian dilakukan langsung oleh Komandan Resor Militer 161/Wira Sakti, Kolonel Inf Rudi, bersama para tokoh adat. Kini, mobil travel dan kendaraan roda empat bisa melaju tanpa khawatir tergelincir. Hasilnya terasa nyata: wisatawan domestik dan mancanegara mulai berdatangan. Mereka tak lagi segan menyusuri perkampungan untuk melihat langsung rumah adat dan upacara megalitik. Bahkan, seorang pengrajin tenun, Mama Lani, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Dulu sebulan hanya dapat dua pembeli, sekarang setiap minggu ada yang mampir," katanya sambil merapikan kain ikat berwarna alam buatannya. Omzet penjualannya naik drastis, membuatnya semakin semangat menenun.
Berkah TMMD: Bukan Hanya Jalan, Tapi Juga MCK dan Sumur Bor
Pembangunan di Sumba Barat Daya ini tak sekadar mengaspal jalan. Tim TMMD juga memikirkan kebutuhan dasar warga. Beberapa fasilitas penting ikut dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan:
- MCK umum yang bersih dan layak, membantu warga yang sebelumnya harus berbagi kamar mandi darurat.
- Sumur bor baru yang mampu mengatasi kekeringan panjang di musim kemarau – air bersih kini lebih dekat dan mudah diakses.
- Homestay sederhana mulai dirintis oleh warga setempat, menyambut wisatawan yang ingin menginap dan menikmati kehidupan desa.
Dengan adanya jalan aspal, tak hanya wisatawan yang diuntungkan. Petani bisa menjual hasil bumi ke kota dengan ongkos lebih murah. Anak-anak sekolah tak perlu lagi berjalan kaki berjam-jam melewati bebatuan. Dan yang paling membahagiakan, semangat gotong royong di antara warga dan TNI semakin kuat.
Kisah Desa Tarung membuktikan bahwa pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan warga mampu mengubah hidup. Dulu akses menjadi penghalang, kini jalan aspal membuka pintu rezeki dan silaturahmi. Senyum Mama Lani bersama warga lain menjadi penanda bahwa kedekatan antara TNI dan rakyat melahirkan perubahan nyata. Semoga kehangatan ini terus menyebar ke pelosok-pelosok lainnya, karena ketika jalan sudah mulus, hati pun semakin dekat.