Pagi itu, Lapangan Thomas Adii di Waghete, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, mendadak berubah cerah. Bukan karena mentari yang bersinar, melainkan karena riuh rendah tawa anak-anak dan senyum lega para orang tua. Puluhan bocah dengan pakaian terbaik mereka, digandeng tangan ibu atau ayah, berdatangan dari kampung-kampung sekeliling. Ada yang berjalan kaki berjam-jam, ada pula yang naik ojek sewaan. Mereka semua punya satu tujuan: mengikuti khitanan massal gratis yang digelar oleh Satgas Yonif Marinir bersama Kodim setempat. Bagi warga pedalaman Deiyai, layanan kesehatan seperti ini sering terasa bagai bintang di siang hari—sulit dijangkau. Namun hari itu, harapan hadir nyata dalam balutan bakti sosial TNI yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Kegembiraan di Lapangan Thomas Adii: Khitanan Massal Gratis untuk Anak-anak Deiyai
Suasana di lapangan terasa seperti pesta kecil. Para prajurit Yonif Marinir menyambut setiap keluarga dengan senyum lebar dan sapaan akrab. Tidak ada jarak antara seragam loreng dan kain tenun khas Papua—mereka seperti saudara yang lama tak bertemu. Letkol Marinir Helilintar Setiojoyo Laksono, Komandan Satgas, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata pengabdian TNI kepada masyarakat, khususnya di daerah dengan akses kesehatan terbatas. Proses khitanan massal dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, sehingga setiap anak mendapatkan perawatan yang aman, nyaman, dan penuh perhatian. Ibu-ibu yang tadinya cemas mulai tersenyum lega melihat anak-anak mereka ditangani dengan lembut. Ada yang mengelus kepala buah hatinya sambil berbisik, “Sudah, Nak, tidak sakit, kata Bapak TNI.”
Bagi masyarakat Deiyai, khitanan massal ini bukan sekadar prosedur medis. Ini adalah bukti bahwa TNI hadir dan peduli terhadap masa depan serta kesejahteraan generasi muda Papua. Banyak orang tua yang menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam. Bantuan seperti ini sangat meringankan beban ekonomi keluarga, apalagi di tengah kondisi yang serba terbatas. Berikut adalah beberapa manfaat yang langsung dirasakan oleh warga:
- Gratis dan tanpa biaya: Semua layanan khitanan massal diberikan secara cuma-cuma, sehingga keluarga tidak perlu khawatir dengan biaya yang mahal.
- Tenaga medis profesional: Prosedur dilakukan oleh dokter dan perawat yang berpengalaman, memberikan rasa aman bagi anak dan orang tua.
- Suasana kekeluargaan: Lapangan Thomas Adii berubah menjadi tempat silaturahmi yang hangat antara prajurit TNI dan warga, mempererat tali persaudaraan.
- Dampak kesehatan jangka panjang: Khitanan bukan hanya soal tradisi, tapi juga bagian dari menjaga kebersihan dan mencegah penyakit, demi masa depan anak-anak Papua yang lebih sehat.
Bakti Sosial TNI: Wujud Kepedulian untuk Masa Depan Papua yang Lebih Sehat
Kegembiraan tak berhenti setelah khitanan massal selesai. Senyum merekah di wajah anak-anak dan orang tua, diselingi canda tawa bersama para prajurit. Beberapa anak bahkan berlari kecil untuk menunjukkan perban di tangannya kepada teman-temannya, bangga karena sudah “jantan”. Para ibu saling berbagi cerita sambil menikmati hidangan yang disiapkan, seolah hari itu menjadi momen yang tak terlupakan. Bakti sosial ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah pelukan hangat dari negara untuk warga di pelosok Papua. Kehadiran TNI di tengah masyarakat Deiyai telah menumbuhkan rasa percaya dan harapan baru, bahwa kesehatan dan kebahagiaan anak-anak Papua adalah prioritas bersama.
Ketika mentari mulai condong ke barat, lapangan itu perlahan sepi. Namun, kesan hangat yang ditinggalkan tetap membekas di hati setiap orang yang hadir. Anak-anak pulang dengan langkah riang, sementara orang tua mengucapkan doa dan terima kasih yang tulus. Bagi warga Deiyai, kehadiran Satgas Yonif Marinir bukan hanya tentang layanan kesehatan gratis, tapi juga tentang persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Semoga semangat gotong royong ini terus menyala, dan semakin banyak anak Papua yang tumbuh sehat, kuat, dan penuh harapan, karena mereka tahu, mereka tidak pernah sendiri.