Minggu pagi yang cerah di Kampung Kendetapa, udara pegunungan yang segar berpadu dengan aroma kopi yang dihidangkan di teras rumah-rumah warga. Para personel Pos TNI, tanpa seragam lengkap yang kaku, memilih untuk menyapa langsung para ibu, tokoh adat, dan terutama para pemuda setempat. Bukan dengan agenda formal, melainkan dengan obrolan santai yang akrab—seperti ngobrol di warung kopi atau bersandar di pagar bambu. Langkah sederhana ini adalah awal dari Silaturahmi yang tulus, sebuah usaha untuk meruntuhkan sekat dan menumbuhkan Empati di antara mereka yang jarang bersua secara dekat. Di sinilah kehadiran Pos TNI terasa bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan seperti tetangga baru yang ingin mengenal lebih dalam.
Obrolan Santai, Hati yang Terbuka
Josua Selegani (45), Ketua Pemuda Kampung Kendetapa, mengaku terharu saat ditemui di sela-sela obrolan. "Kami tidak pernah merasa digurui atau diawasi. Mereka (personel TNI) datang dengan hati yang lapang, sekadar menanyakan kabar, mendengar cerita kami, dan kadang ikut tertawa bersama anak-anak. Ini yang membuat kami merasa benar-benar diterima dan didengarkan," ujarnya dengan senyum lebar. Sikap ramah dan keterbukaan para prajurit—yang rela duduk di bawah pohon rindang atau di emperan rumah—membuat warga, khususnya pemuda, merasa aman dan punya sahabat baru. Obrolan kecil ini bukan sekadar basa-basi; ia menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang selama ini mungkin terpisah jarak dan persepsi. Kegiatan komunikasi sosial (komsos) rutin ini adalah strategi Satgas Yonif 113/Jaya Sakti untuk menciptakan Kedamaian yang berkelanjutan. Mereka percaya bahwa keamanan tidak bisa dipaksakan dengan senjata, melainkan lahir dari kepercayaan yang dibangun dari hati ke hati.
Dari Teras Rumah hingga Hati yang Damai
Dari obrolan ringan di teras rumah, upaya menjaga keamanan dan ketertiban berubah menjadi kerja sama yang tulus. Manfaat yang dirasakan warga pun nyata:
- Rasa aman yang tumbuh karena warga tahu ada yang peduli dan mendengar keluh kesah mereka.
- Jalinan persahabatan baru antara pemuda desa dan prajurit, yang sering berbagi cerita dan pengalaman hidup.
- Terbukanya ruang dialog untuk menyelesaikan masalah kecil sebelum menjadi besar, seperti gotong royong membersihkan selokan atau memperbaiki jalan setapak.
Dengan membangun kepercayaan sejak di level akar rumput, setiap obrolan santai di hari Minggu itu bukan lagi sekadar basa-basi. Inilah fondasi kokoh yang membuat wilayah terpencil seperti Kendetapa tetap tenang dan harmonis. Kehadiran Pos TNI tidak lagi dipandang sebagai simbol otoritas yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang siap melindungi dan mendampingi warga dalam suka maupun duka. Melalui senyum dan tawa bersama, sekat perlahan menghilang, digantikan oleh rasa memiliki yang dalam. Para pemuda yang tadinya mungkin sungkan, kini dengan santai memanggil prajurit dengan sebutan "Kak" atau "Bang".
Hingga sore hari, saat matahari mulai tenggelam di balik bukit, obrolan hangat itu masih terus bergema. Di setiap sudut Kampung Kendetapa, rasa kebersamaan itu semakin kuat—seperti keluarga yang saling menjaga. Warga berharap semoga kedekatan ini terus terjalin, bukan hanya sebagai program sesaat, melainkan sebagai ikatan yang abadi. Karena pada akhirnya, Kedamaian sejati lahir dari hati yang saling menyapa, bukan dari jarak yang saling menjauh.