Pagi itu, Desa Sumberasih di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, terasa berbeda. Biasanya suara gemericik air sungai dan kicau burung yang terdengar, kali ini bercampur dengan tawa riang anak-anak. Mereka berkumpul di bantaran sungai yang tenang, bukan untuk bermain, melainkan untuk belajar mencintai lingkungan bersama para anggota Koramil setempat. Hari itu, TNI mengajak anak desa untuk belajar tentang pentingnya menjaga alam melalui aksi nyata: goro membersihkan sungai dan menanam pohon. Suasana hangat langsung terasa saat para prajurit dengan sabar memandu anak-anak mencangkul tanah, menanam bibit, dan menyiram tanaman. Tak jarang celoteh lucu keluar, seperti, “Kenapa pohon harus ditanam, Pak?” Seorang prajurit menjawab dengan sederhana, “Pohon bikin udara sejuk dan mencegah banjir, Nak.” Semua tertawa lepas, tanpa sekat antara seragam loreng dan baju lugu anak desa.
Di Bantaran Sungai, TNI dan Anak Desa Menanam Rasa Memiliki
Setelah goro selesai, giliran sesi dongeng tentang burung dan hutan yang disampaikan dengan gaya lucu. Anak-anak duduk melingkar, mata mereka berbinar mendengar cerita tentang pentingnya pohon bagi kehidupan. Aktivitas ini bukan hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga menanam rasa memiliki terhadap alam sejak dini. Para prajurit TNI menjadi sahabat yang dekat, bukan sekadar pengajar. Mereka menunjukkan bahwa lingkungan adalah rumah kita bersama, dan menjaganya adalah tugas semua orang. Warga desa yang ikut melihat kegiatan itu tersenyum bangga melihat anak-anak pulang dengan tanah di kuku dan senyum di wajah. Program seperti ini punya arti lebih dari sekadar bersih-bersih — ini adalah investasi untuk masa depan desa.
Manfaat Nyata yang Langka dari Perpaduan Goro dan Pendidikan
Kegiatan goro bersama TNI di Desa Sumberasih membawa banyak manfaat yang langsung dirasakan oleh warga dan anak-anak. Berikut beberapa di antaranya:
- Sungai bersih dari sampah — aliran air menjadi lancar dan lingkungan sekitar lebih sehat.
- Kesadaran jangka panjang — anak-anak belajar bahwa menjaga alam dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya.
- Kedekatan sosial — hubungan antara TNI dan warga desa semakin erat, tercipta rasa saling percaya dan gotong royong.
- Inspirasi di rumah — setiap anak pulang membawa bibit pohon kecil yang harus dirawat sendiri, sehingga semangat mencintai lingkungan terbawa hingga ke rumah masing-masing.
Manfaat-manfaat ini tidak hanya terasa hari itu, tetapi akan terus tumbuh seiring waktu. Anak-anak Desa Sumberasih kini punya pengalaman berharga: mereka tidak hanya mendengar teori tentang lingkungan, tetapi langsung praktik di lapangan — dari memungut sampah, mencangkul, hingga menyiram tanaman. Semua dilakukan dengan penuh kegembiraan, tanpa paksaan. Inilah bukti bahwa pendidikan lingkungan bisa dikemas dengan cara paling sederhana dan penuh kehangatan.
Hari itu, desa kecil di kaki bukit itu belajar satu hal: menjaga alam sama dengan menjaga rumah kita sendiri. Dan ketika TNI hadir di tengah anak-anak, mereka bukan hanya menjadi pengajar, tetapi juga sahabat. Semoga semangat gotong royong dan cinta alam terus menyala di setiap sudut desa, dari generasi ke generasi. Karena di sanalah, di antara gelak tawa dan tanah basah, masa depan yang lebih hijau mulai tumbuh. Dari Desa Sumberasih, kita semua bisa belajar bahwa kebersamaan adalah kunci untuk merawat bumi.