Suasana desa yang biasanya hening, kali ini berubah menjadi lautan tawa dan irama. Di sebuah desa di Lombok, suara gendang belek dan alunan gamelan tradisional menggema dari ujung jalan ke ujung jalan. Warga dari berbagai usia mulai berdatangan, anak-anak berlarian, para ibu duduk lesehan di tepi panggung, dan para tetua duduk dengan bangga di kursi bambu. Festival Desa Budaya yang digelar atas prakarsa pemuda setempat sukses mengubah desa yang sunyi menjadi pusat kebahagiaan. Yang membuat acara ini semakin istimewa, dukungan penuh dari Kodim setempat hadir bukan hanya sebagai pengaman, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar desa. Mereka ikut mendirikan panggung, mengatur tata suara, hingga memainkan alat musik tradisional bersama warga.
Gotong Royong di Panggung Budaya: TNI dan Warga Satukan Langkah
Dari pagi hingga sore, para prajurit bahu-membahu dengan pemuda desa. Suasana akrab terasa kental ketika mereka bersama-sama merangkai janur untuk menghias panggung. Bukan sekadar tugas, ini adalah bentuk kecintaan mereka pada kearifan lokal yang mulai terkikis zaman. “Ini warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,” ujar Dandim dengan suara lantang saat membuka festival. Kata-kata itu disambut tepuk tangan meriah dari seluruh warga. Melihat para prajurit yang biasanya gagah berseragam, kini duduk melingkar memainkan gendang dan suling, semua orang merasa bahwa budaya adalah milik semua—tanpa sekat, tanpa pangkat.
- Mendirikan panggung dan tata panggung secara gotong royong
- Mengamankan acara dengan penuh kehangatan, bukan ketegangan
- Para prajurit ikut memainkan alat musik tradisional seperti gendang belek dan seruling
- Dampingi warga saat latihan tarian dan musik tradisional
Cerita dari Para Tetua: Filosofi di Balik Tarian dan Ukiran
Yang paling mengharukan adalah ketika para tetua desa maju ke depan panggung. Mereka bercerita tentang makna setiap gerak tarian dan ukiran yang selama ini mulai jarang dibicarakan. “Tarian ini bukan hanya gerak, ini doa dan syukur kepada leluhur,” kata Pak Karjo, sesepuh desa yang matanya berkaca-kaca. Anak-anak muda duduk hening mendengarkan, sementara para prajurit mencatat di buku kecil. Festival ini bukan sekadar pesta rakyat, ia menjadi jembatan yang mengikat generasi tua dan muda. Melalui budaya, mereka kembali menemukan kearifan lokal yang sempat hilang—tentang gotong royong, tentang menghormati alam, dan tentang kebersamaan yang tulus.
Bukan hanya panggung yang menjadi saksi, tetapi juga senyum dan air mata haru. Dukungan TNI dalam kegiatan budaya ini membuktikan bahwa membangun ketahanan nasional bisa dimulai dari hal sederhana: melestarikan senyum, tarian, dan tradisi di desa. Semua orang pulang dengan perasaan lebih ringan, lebih bersyukur. Dan saat malam tiba, di bawah lampu minyak dan gemerlap bintang, warga masih bergandengan tangan, berjanji akan terus menggelar festival ini setiap tahun. Sebab, budaya bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk dihidupi bersama—oleh warga, oleh TNI, oleh kita semua.