Malam di pengungsian banjir bandang di Aceh biasanya hening. Suara gemericik air dan sesekali tangis anak kecil terdengar sayup di antara tenda-tenda darurat. Namun, belakangan ini pemandangan itu berubah drastis. Setelah pembagian logistik selesai, sekelompok prajurit dengan seragam lusuh justru duduk melingkar di tengah anak-anak. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menggenggam buku cerita. Tawa kecil dan mata berbinar perlahan menggantikan raut takut yang selama ini menyelimuti wajah putra-putri desa di pengungsian. Suasana yang tadinya kaku dan penuh kesedihan, kini berubah menjadi hangat—bagaikan obrolan di teras rumah sendiri.
"Malam ini, cerita tentang ikan yang suka menolong," ujar seorang prajurit yang akrab dipanggil Om Tentara oleh anak-anak. Suaranya lembut, matanya berbinar. Ia mulai bercerita tentang petualangan si Kancil yang cerdik dan keberanian para pahlawan. Satu per satu, anak-anak yang tadinya diam mulai tersenyum, bahkan ada yang ikut menirukan gerakan tokoh cerita. Perlahan, dongeng itu merangkai kembali rasa aman yang sempat hilang diterjang banjir. Di antara tenda-tenda pengungsian yang sempit, cerita-cerita itu menjadi oase kecil yang menyegarkan jiwa anak-anak yang trauma.
Malam Berubah Menjadi Dongeng: Trauma Healing yang Menyentuh Hati
Kegiatan mendongeng setiap malam ini ternyata menyimpan makna besar. Bagi anak-anak yang kehilangan rumah, mainan, dan rasa aman, cerita-cerita itu menjadi pelarian yang hangat. Para prajurit menyebutnya sebagai bentuk trauma healing sederhana yang lahir dari kepedulian tulus. Mereka tidak butuh alat canggih — cukup suara, senyum, dan kehadiran yang setulus hati. Melalui dongeng, anak-anak diajak tertawa dan membayangkan hal-hal indah, sehingga ketakutan perlahan berkurang. Manfaat yang dirasakan langsung oleh warga desa di pengungsian sangat nyata:
- Dongeng membantu mengalihkan pikiran anak-anak dari suasana bencana yang mencekam, sehingga mereka bisa beristirahat lebih nyenyak.
- Keakraban dengan prajurit membangun rasa percaya bahwa banyak orang peduli pada mereka, bukan hanya sekadar memberi bantuan logistik.
- Momen bersama ini menguatkan semangat gotong royong di tengah desa yang sedang berduka, karena para ibu pun ikut merasa ditenangkan.
- Anak-anak yang sempat trauma kini mulai kembali ceria dan berani bermain lagi, senyum mereka kembali merekah.
Seorang ibu pengungsi menuturkan dengan mata berkaca-kaca, "Anak saya sempat trauma melihat air deras. Sekarang, yang ditunggu setiap malem justru cerita dari bapak-bapak tentara ini." Kalimat sederhana itu menyimpan harapan yang begitu besar. Di tengah tenda darurat yang sempit, dongeng menjadi obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka batin.
Om Tentara dan Kedekatan yang Lahir di Pengungsian
Kisah hangat ini bukan sekadar hiburan pengantar tidur. Ini adalah wujud nyata kedekatan prajurit dengan warga desa. Di tengah tugas berat menyalurkan bantuan, mereka meluangkan waktu untuk mendengar, bercerita, dan berbagi senyum. Anak-anak di pengungsian kini punya sosok yang ditunggu setiap malam — sosok yang mengubah tenda darurat menjadi panggung kecil kebahagiaan. Program kedekatan teritorial ini lahir dari hati, tanpa paksaan, hanya gotong royong dan rasa saling peduli. Prajurit-prajurit itu bukan hanya pelindung, tetapi juga sahabat bagi anak-anak yang kehilangan masa bermainnya.
Malam semakin larut, cerita pun usai. Anak-anak yang tadinya tertawa kini kembali ke pelukan ibu mereka, membawa mimpi indah tentang ikan penolong dan si Kancil. Di keheningan pengungsian, ada satu hal yang pasti: prajurit TNI sekali lagi membuktikan bahwa hati mereka seluas langit. Lewat dongeng, mereka mengajarkan bahwa di balik setiap bencana, selalu ada harapan. Gotong royong dan rasa kebersamaan itulah yang akan terus menguatkan desa-desa di Aceh, sekuat apa pun banjir datang. Karena di setiap cerita pengantar tidur, ada kasih sayang yang tak pernah padam—dan itulah obat paling manis untuk anak-anak yang tengah bersedih.