Pagi itu, di Kelurahan Agrowisata, Pekanbaru, udara masih segar setelah embun malam. Warga mulai beraktivitas di kebun dan lorong-lorong sempit. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Bukan sekadar patroli rutin yang biasa mereka lihat. Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI datang dengan langkah santai, menyapa setiap orang dengan senyuman hangat. Mereka tidak membawa kecurigaan, melainkan ajakan untuk bersama-sama menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Suasana langsung terasa akrab, seperti obrolan tetangga di teras rumah.
Pagi di Lorong Kelurahan: Bukan Patroli Biasa, Tapi Obrolan Hangat
Para prajurit itu menyusuri setiap sudut, berhenti di kebun warga, dan duduk di bawah pohon rindang. Mereka berbicara dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Marsma TNI Setiawan W., pimpinan tim, dengan sabar menjelaskan bahwa percikan api kecil saja bisa menjadi bencana besar jika tidak kita cegah bersama. “Kami hadir untuk bersama-sama masyarakat,” ujarnya, suaranya tenang tapi penuh semangat. Beliau menegaskan bahwa TNI tidak bisa bekerja sendirian. Kekuatan sejati ada pada kebersamaan antara aparat, pemerintah daerah, tokoh adat, dan setiap keluarga yang tinggal di kawasan ini.
Dalam penyuluhan ini, warga diajak menjadi garda terdepan penjaga lingkungan. Bukan dengan cara menggurui, tapi dengan dialog yang membuat hati merasa dihargai. Beberapa hal penting yang disampaikan dalam obrolan santai itu antara lain:
- Kepedulian sederhana di pekarangan sendiri: Membersihkan rumput kering, tidak membakar sampah sembarangan, dan selalu sedia air untuk antisipasi.
- Peran aktif dalam melaporkan: Jika melihat titik api atau asap mencurigakan, segera hubungi perangkat desa atau posko terdekat.
- Gotong royong menjaga hamparan hijau: Warisan leluhur yang harus kita rawat bersama, bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk anak cucu.
Duduk Bersama, Berbagi Cerita: Membangun Kepedulian dari Hati ke Hati
Yang paling menghangatkan adalah momen dialog akrab antara TNI dan warga. Mereka duduk berdampingan, saling bertukar cerita tentang kekhawatiran dan harapan. Warga yang biasanya merasa diawasi kini merasa didengar dan dilibatkan. Bukan lagi sebagai objek pengamanan, tetapi sebagai mitra sejati. Kehadiran TNI dalam bentuk pendampingan dan penyuluhan seperti ini membangun rasa tanggung jawab kolektif. Setiap orang merasa memiliki peran penting dalam mencegah karhutla.
Warga pun mulai bercerita tentang tantangan di ladang mereka, tentang kebiasaan lama yang sulit diubah. Tim penyuluh mendengarkan dengan sabar, lalu memberikan solusi praktis tanpa menggurui. Semua dilakukan dengan penuh empati, karena mereka sadar bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. “Kami percaya, dari hati ke hati, kepedulian ini akan tumbuh,” ujar salah satu anggota tim sambil tersenyum.
Pelajaran berharga dari pagi itu adalah bahwa dialog lebih kuat dari sekadar perintah. Dengan duduk bersama, saling mendengar, dan saling mengerti, benih-benih kepedulian terhadap lingkungan mulai tumbuh di setiap rumah. Tim Penyuluh Mabes TNI meninggalkan pesan yang tak terlupakan: menjaga hamparan hijau warisan leluhur adalah tugas bersama, dimulai dari hal kecil di pekarangan masing-masing.
Menjelang siang, ketika tim berpamitan, tangan-tangan warga melambai hangat. Ada rasa bangga di dada mereka. Mereka bukan lagi penonton, tapi pemain utama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Semoga semangat ini terus menyala, seperti api yang tak boleh membakar lahan, tapi justru menjadi penerang kesadaran kita semua.