Hujan deras yang mengguyur Flores sejak pagi berubah menjadi mimpi buruk saat banjir bandang tiba-tiba menerjang pemukiman warga. Di tengah kepanikan dan suara gemuruh air, seragam hijau TNI sudah berada di lokasi—bukan dengan senjata, melainkan dengan sekop, perahu karet, dan senyuman yang menenangkan. Mereka datang bukan sebagai tentara, tetapi sebagai tetangga yang siap membantu.
Dari Patroli Menjadi Pelukan
“Awalnya kami sedang patroli rutin, melihat kondisi ini ya langsung kami kerahkan personel untuk bantu,” ujar Serka Andi, seorang prajurit yang basah kuyup saat mengevakuasi warga ke tempat aman. Dengan sabar, mereka menggendong anak-anak yang ketakutan, menuntun para lansia melewati genangan, dan mengangkut barang-barang seadanya yang sempat diselamatkan. Wajah lelah mereka tak menghalangi senyuman hangat yang terus diberikan untuk menenangkan korban. Di antara reruntuhan dan lumpur, yang tersisa hanyalah cerita tentang pertolongan tulus tanpa pamrih.
- Evakuasi berlangsung cepat karena prajurit sudah familiar dengan medan dan warga setempat.
- Anak-anak dan lansia menjadi prioritas utama, digendong dan dituntun dengan hati-hati.
- Barang-barang berharga seperti dokumen dan obat-obatan juga diselamatkan dari amukan banjir.
Dapur Umum, Hangatnya Kebersamaan
Di posko pengungsian, para prajurit kembali beraksi. Mereka mendirikan dapur umum dengan peralatan seadanya. Aroma nasi dan lauk hangat menembus dinginnya malam Flores, menghangatkan perut dan hati warga yang kehilangan tempat tinggal. “Mereka seperti keluarga sendiri,” ucap Bu Sari, seorang nenek yang berhasil dievakuasi. Air matanya mengalir bukan karena sedih, melainkan karena haru melihat kebersamaan yang terjalin. Tak hanya menyediakan makanan, prajurit juga membantu membersihkan luka dan memberikan semangat kepada warga yang masih terpukul.
Bantuan logistik terus mengalir dari berbagai pihak, namun kehadiran TNI di tengah warga menjadi penopang utama. Mereka tak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga kekuatan mental. Setiap senyum dan gandengan tangan mereka mengingatkan bahwa di balik bencana, selalu ada tangan-tangan yang siap menolong. Inilah makna sejati dari gotong royong dan kedekatan teritorial—sebuah ikatan yang tak pernah putus meski banjir bandang menerjang.