Udara pagi di Kampung Sabron Raya, Distrik Sentani Barat, Jayapura, masih setia menemani embun yang bergelantungan di ujung dedaunan. Warga mulai turun ke kebun seperti biasa, tetapi kali ini ada semangat yang berbeda—seperti ada harapan baru yang menari di setiap langkah. Selama ini, jalan setapak becek dan berlumpur jadi momok utama; hasil panen seperti sayur mayur dan buah-buahan sering terpaksa dibiarkan membusuk karena susah diangkut ke pasar. Namun, sejak Tentara Nasional Indonesia hadir melalui program TMMD ke-130 dari Kodim 1701/Jayapura, secercah cahaya mulai merembes masuk. Sebanyak 150 personel tidak hanya membawa alat berat dan semen, tapi juga hati yang menyatu dengan warga selama 30 hari penuh. Program ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan obrolan hangat antara prajurit dan masyarakat yang saling bergotong-royong.
Jalan Cor: Menyambung Asa Warga Sabron Raya
Salah satu pekerjaan utama dalam TMMD ini adalah mengecor jalan sepanjang 600 meter. Bagi warga Sabron Raya, ruas ini bukan sekadar beton—ia adalah nadi ekonomi yang selama ini terputus. Dulu, setiap kali musim hujan tiba, akses keluar-masuk kampung seperti berenang di lumpur. Kini, dengan jalan cor yang mulus, mobilitas jadi lebih lancar. Berikut manfaat yang langsung dirasakan warga:
- Mempercepat distribusi hasil pertanian dari kebun ke pasar, sehingga sayur dan buah tidak lagi busuk di perjalanan.
- Menurunkan biaya transportasi yang selama ini membebani warga—ojek dan truk kecil kini bisa masuk tanpa takut selip.
- Membuka akses bagi kendaraan roda dua maupun roda empat, termasuk ambulans dan mobil dinas yang dulu harus memutar jauh.
- Menumbuhkan aktivitas ekonomi baru—warung-warung kecil mulai bermunculan di sepanjang jalan yang baru dicor, seperti jamur di musim hujan.
Setiap meter jalan yang diaspal adalah bukti bahwa pembangunan tidak melupakan kampung-kampung kecil. Kami juga mendengar cerita Pak Markus, seorang petani jagung, yang matanya berkaca-kaca saat melihat jalan cor mulai terbentuk. “Dulu saya harus pikul jagung satu jam ke jalan raya, sekarang bisa naik motor sampai depan kebun,” ujarnya pelan. Suaranya bergetar, tapi senyumnya lebar. Kini, ia tak perlu lagi menunggu kemarau panjang untuk menjual hasil kebun dengan harga layak.
Lahan Pertanian dan RTLH: Sentuhan Hangat untuk Kehidupan Lebih Layak
Tak hanya jalan, program unggulan dari Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) juga menghadirkan pembukaan lahan pertanian seluas satu hektare untuk dikelola bersama. Lahan ini menjadi sumber penghidupan baru bagi keluarga-keluarga yang sebelumnya hanya punya ladang sempit. Selain itu, para prajurit mengadakan penyuluhan pertanian dan kesehatan—warga belajar cara memupuk yang benar, mengatasi hama, dan menjaga kebersihan lingkungan. Perhatian paling menyentuh diberikan lewat pembangunan dua unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Dua keluarga yang selama ini tinggal di rumah berdinding papan lapuk dan beratap bocor akan segera menempati hunian yang lebih kokoh dan layak. Salah satunya adalah Bu Marta, penerima bantuan RTLH, yang tak henti-hentinya mengucap syukur. “Dinding rumah saya dulu tembus angin, kalau hujan air masuk sampai ke dapur. Sekarang, saya bisa tidur tenang,” katanya sambil mengusap matanya yang basah. Program TMMD ini didanai anggaran Rp1,5 miliar, tetapi nilai sejatinya terukur dari senyum warga yang mulai memimpikan masa depan lebih baik.
Semua ini terwujud berkat gotong royong antara TNI, pemerintah daerah, dan warga. Prajurit tidak hanya bekerja, tetapi juga duduk bersama, ngobrol soal tanaman, dan mendengar keluh kesah. Kedekatan itulah yang membuat program TMMD di Jayapura bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah keluarga besar yang saling menguatkan. Kini, di Sabron Raya, setiap pagi dimulai dengan langkah ringan di jalan cor yang mulus, diiringi harapan yang kembali tumbuh subur seperti tanaman di lahan pertanian. Pembangunan memang penting, tetapi gotong royong adalah jiwa yang membuatnya berarti. Dan di kampung kecil ini, jiwa itu terus berkobar.