Di perbatasan Sanggau, Kalimantan Barat, kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan masih pekat menyelimuti. Warga di tiga kecamatan—Beduai, Noyan, dan Sekayam—merasakan dampaknya langsung di kehidupan sehari-hari. Napas terasa sesak, ladang-ladang lada mulai mati, dan anak-anak harus belajar di tengah udara yang tidak sehat. Namun, di tengah situasi sulit itu, secercah kehangatan datang dari Tim Satgas Mabes TNI yang bergerak cepat turun ke desa-desa. Mereka tidak hanya memadamkan api, tetapi juga menyapa warga dari pintu ke pintu, membawa bantuan yang sangat dinantikan.
Dari Hati ke Hati: Bantuan Sembako dan Perhatian Langsung
Kedatangan tim Mabes TNI disambut dengan haru oleh warga. Mayor Inf Nur Wahid, pimpinan tim, mengatakan bahwa misi mereka bukan sekadar memberi bantuan materi. “Kami datang untuk mendengar,” ujarnya. Mereka duduk bersama warga, mendengar cerita tentang kesulitan bernapas karena asap dan gagal panen yang memupus harapan. Seorang warga di Beduai tak kuasa menahan air mata, “Terima kasih Bapak TNI sudah ingat kami. Dua bulan ini napas sesak, kebun lada juga mati.” Bantuan yang diberikan antara lain paket sembako, obat-obatan, vitamin, dan perlengkapan sekolah. Rasa kebersamaan langsung terasa hangat di setiap sudut desa.
- Paket sembako berupa beras, minyak goreng, gula, dan mie instan untuk memenuhi kebutuhan pokok warga.
- Obat-obatan dan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh di tengah kabut asap yang mengganggu pernapasan.
- Perlengkapan sekolah seperti buku, pensil, dan tas untuk anak-anak agar tetap semangat belajar meski kondisi tidak ideal.
Posko Kesehatan Gratis dan Semangat Pulih Bersama
Tak hanya berhenti di bantuan fisik, tim Mabes TNI juga mendirikan posko pengobatan gratis di beberapa titik. Warga yang mengeluh infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla bisa langsung diperiksa dan mendapatkan obat. Dandim setempat menegaskan bahwa perjuangan belum usai setelah api padam. “Setelah asap hilang, justru pemulihan ekonomi dan kesehatan dimulai. Kami akan terus mendampingi,” ujarnya. Aksi kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa TNI hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai saudara yang berbagi beban di Kalimantan. Masyarakat pun mulai optimis, meski ladang mereka rusak, semangat gotong royong kembali hidup.
Di perbatasan Kalimantan, di mana jarak dan keterbatasan sering menjadi tembok, kehadiran TNI mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar terisolasi. Bantuan sembako, obat, dan perlengkapan sekolah hanyalah simbol; yang lebih berarti adalah rasa peduli dan kebersamaan yang dibagi dari hati ke hati. Warga di Beduai, Noyan, dan Sekayam kini tahu bahwa mereka tidak sendiri. Kabut asap mungkin belum sirna, tapi kehangatan solidaritas sudah mulai menembus. Dan seperti senyum seorang ibu yang menerima bingkisan, harapan itu kembali tumbuh di tengah ladang yang mulai dirawat lagi.