Pagi itu, Kampung Totitra di Distrik Tomu, Kabupaten Teluk Bintuni, tampak cerah dan penuh keakraban. Langkah kaki Letnan Infanteri P. Usyor—yang akrab disapa Danramil—bersama dua orang Babinsa, menyusuri jalan setapak kampung. Bukan dengan seragam yang kaku, melainkan dengan senyum ramah dan sapaan hangat kepada setiap warga yang mereka temui. Kegiatan ini bukan sekadar tugas, melainkan niat tulus untuk merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat binaan melalui komsos (komunikasi sosial) dan pantau wilayah. Warga pun menyambut dengan wajah ceria, seolah kedatangan para prajurit ini adalah kunjungan keluarga lama.
Senyum Danramil di Tengah Hamparan Hijau
Tak hanya berhenti di pinggir jalan, Danramil dan Babinsa melangkah lebih jauh—ke lahan kebun milik Bapak Idris Ayer. Di bawah terik matahari, mereka menyusuri deretan tanaman yang tumbuh subur. Dengan penuh perhatian pertanian, Danramil menunduk melihat daun-daun sayur, menyentuh batang tanaman, dan bertanya tentang cara Bapak Idris mengelola lahannya. “Alhamdulillah, hasilnya lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Bapak Idris sambil tersenyum. Kehadiran mereka di tengah hamparan hijau itu adalah bukti nyata kedekatan TNI dengan warga desa, karena mereka paham betul bahwa kebun adalah urat nadi ekonomi keluarga di pelosok.
Kebun Bapak Idris: Bukti Nyata Perhatian TNI pada Penghidupan Warga
Bapak Idris dengan antusias menceritakan pengalamannya bercocok tanam, mulai dari cara memilih bibit hingga mengatasi hama. Danramil mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan masukan sederhana yang bermanfaat. Suasana berubah menjadi obrolan akrab antara tetangga, bukan antara petugas dan warga. Melalui kegiatan pantau wilayah yang dibalut komsos ini, Babinsa terus berupaya membangun kedekatan dengan cara-cara yang menyentuh langsung keseharian warga. Manfaat dari program ini sangat dirasakan oleh masyarakat Kampung Totitra:
- Peningkatan rasa percaya antara TNI dan warga, karena prajurit hadir bukan hanya saat ada masalah.
- Warga mendapat pendampingan langsung, terutama dalam hal pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan.
- Tercipta suasana kampung yang aman dan guyub, karena komunikasi sosial berjalan alami tanpa jarak.
- Para petani seperti Bapak Idris merasa dihargai dan didukung, sehingga semangat mengelola lahan semakin besar.
Kunjungan seperti ini bukan sekadar laporan tugas di atas kertas. Ia adalah ikatan dari hati ke hati, yang memperkuat rasa saling percaya antara prajurit dan masyarakat. Setiap langkah Danramil di kebun, setiap tanya jawab tentang tanaman, adalah benih kebersamaan yang terus tumbuh. Bapak Idris pun mengaku bangga karena prajurit TNI mau meluangkan waktu untuk sekadar melihat kebun kecilnya. “Kami jadi merasa tidak sendiri dalam mengurus lahan ini,” katanya dengan mata berbinar. Semoga semangat gotong royong dan kedekatan ini terus terpelihara. Dari Kampung Totitra, kita belajar bahwa pembangunan desa sejati lahir dari kebersamaan yang tulus—di mana prajurit dan warga saling bergandengan tangan, demi masa depan yang lebih cerah.