Cerita Kehangatan Trending

Danramil di Desa Terpencil Sulawesi Jadi Guru Dadakan, Ajar Anak-Anak Membaca

Danramil di Desa Terpencil Sulawesi Jadi Guru Dadakan, Ajar Anak-Anak Membaca

Di sebuah desa terpencil Sulawesi, Kapten Inf Ahmad, seorang Danramil, dengan tulus menjadi guru dadakan untuk anak-anak yang belum lancar membaca. Dengan peralatan seadanya, ia menyulap balai desa menjadi kelas penuh canda, mengajarkan tidak hanya baca tulis tetapi juga nilai kebersamaan. Inisiatif sederhana ini menjadi bukti hangat kedekatan TNI dengan warga dan harapan baru bagi masa depan generasi penerus di pelosok negeri.

Di sebuah desa terpencil di Sulawesi Tengah, sore hari tak lagi hanya diisi dengan riuh angin dan nyanyian alam. Sejak dua bulan lalu, balai desa berubah jadi pusat keceriaan. Tawa riang puluhan anak menggema, bercampur dengan suara mereka yang penuh semangat mengeja huruf dan angka. Di tengah mereka, berdiri seorang pria berseragam hijau—Kapten Inf Ahmad, Danramil setempat. Ya, dialah 'guru dadakan' yang dengan tulus hati menyisihkan waktu usai patroli untuk mengajar anak-anak membaca.

Dari Balai Desa Menjadi Kelas Penuh Canda

Cerita ini berawal dari sebuah keprihatinan yang tulus. Kapten Ahmad sering melihat anak-anak seusia sekolah yang seharusnya lancar membaca, justru masih kebingungan dengan huruf dan angka. Akses menuju sekolah formal terbatas di pelosok ini, sementara orang tua mereka sibuk bekerja di kebun untuk menafkahi keluarga. "Lihat senyum mereka saat bisa mengeja namanya sendiri, itu yang bikin semangat," tutur Ahmad, matanya berbinar saat menceritakan momen-momen kecil yang berarti itu. Dengan peralatan seadanya—hanya sebuah papan tulis bekas dan beberapa batang kapur—ia pun menyulap balai desa menjadi ruang kelas yang penuh canda dan semangat belajar.

"Bapak tentara baik, ngajarin saya nulis," celetuk Sari, gadis cilik berusia 9 tahun dengan polosnya, sambil menunjukkan coretan namanya yang baru saja ia tulis di buku tulis. Baginya dan teman-temannya, sore hari kini adalah waktu yang dinantikan. Bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk berkumpul dan merasakan perhatian yang hangat dari sang guru berseragam. Suasana ini perlahan menular ke seluruh warga. Para orang tua yang awalnya ragu, kini justru antusias mengantar anak-anak mereka ke 'sekolah sore' yang digagas oleh TNI ini.

Lebih Dari Sekadar Baca Tulis, Ini Tentang Kebersamaan

Program yang sederhana namun penuh makna ini ternyata menyentuh lebih dalam dari yang dibayangkan. Di balik pelajaran membaca dan berhitung, Kapten Ahmad juga menyelipkan nilai-nilai luhur kebersamaan, kedisiplinan, dan rasa hormat. Semua diajarkan dengan cara yang menyenangkan, sesuai dunia anak-anak. Kelas ini menjadi bukti nyata bahwa kedekatan teritorial yang dibangun TNI tidak hanya berbicara soal keamanan dan patroli. Lebih dari itu, ini adalah soal hati yang tulus peduli pada masa depan generasi penerus di desa terpencil.

Kehadiran 'sekolah sore' ini memberikan dampak positif yang konkret bagi masyarakat desa di Sulawesi ini, antara lain:

  • Membuka Akses Pendidikan Dasar: Bagi anak-anak yang terkendala jarak atau kondisi keluarga, balai desa kini berfungsi sebagai sekolah kedua yang sangat berarti.
  • Menguatkan Ikatan Sosial: Aktivitas ini mempertemukan anak-anak dari berbagai bagian desa, memperkuat rasa persahabatan dan kebersamaan sejak dini.
  • Memberi Pengetahuan dan Harapan: Kemampuan membaca membuka cakrawala baru bagi anak-anak, memberikan mereka bekal dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah.
  • Mempererat Hubungan Warga dan TNI: Program ini menunjukkan sisi humanis dan kepedulian TNI, menjadikan mereka bagian dari keluarga yang dipercaya dan disayangi warga.

Mungkin bagi dunia luar, ini hanyalah kelas belajar sederhana di sudut desa terpencil. Namun, bagi anak-anak di sana, ini adalah pintu menuju mimpi. Bagi orang tua, ini adalah angin segar harapan. Dan bagi Kapten Ahmad serta rekan-rekannya di TNI, ini adalah pengabdian yang lahir dari hati. Di balik balai desa yang sederhana, tumbuhlah benih-benih pengetahuan yang suatu hari nanti akan mengubah nasib sebuah wilayah. Semua berawal dari sebuah kepedulian dan secarik kapur di atas papan tulis bekas.

pendidikan buta huruf TNI peduli pendidikan desa terpencil
Terkait
  • Topik: pendidikan, buta huruf, TNI peduli pendidikan, desa terpencil
  • Tokoh: Kapten Inf Ahmad, Sari
  • Organisasi: TNI
  • Tempat: Sulawesi Tengah

Artikel terkait