Di bawah rimbunnya pepohonan hutan lindung di kaki Gunung Ciremai, pagi itu berubah menjadi pemandangan yang tak terlupakan. Suara anak-anak bercampur gelak tawa mengisi udara segar, menggantikan kesunyian yang biasa menyelimuti kawasan itu. Mereka duduk lesehan di atas tikar bambu, mata berbinar saat tangan mungil belajar memegang pensil untuk pertama kalinya. Di tengah mereka, seorang prajurit wanita TNI AD dengan sabar menuntun anak desa menuliskan huruf demi huruf. Inilah Sekolah Hutan, sebuah kegiatan yang lahir dari keprihatinan dan cinta untuk anak-anak yang tidak sempat merasakan bangku sekolah formal.
Dengan penuh kesabaran, Serma Dewi dari Koramil 023 Kuningan memandu mereka mengenal huruf dan angka. Setiap coretan miring di atas kertas dirayakan sebagai pencapaian besar. Dani (7), salah satu murid, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Aku senang bisa belajar sama Ibu Tentara," ucapnya sambil memperlihatkan tulisannya yang belum rapi, namun penuh semangat. Mata Serma Dewi berbinar melihat usaha anak-anak itu, seakan setiap huruf yang tertulis adalah jembatan menuju masa depan mereka.
Di Bawah Naungan Daun: Belajar dengan Penuh Cinta
Bagi warga tiga desa di sekitar Gunung Ciremai, jarak dan biaya sering menjadi tembok yang menghalangi anak-anak untuk bersekolah. Melihat kenyataan itu, Serma Dewi tergerak membuat terobosan. Setiap akhir pekan, ia menyusuri jalan setapak menuju hutan lindung, mengubah tikar bambu menjadi ruang kelas, dan pepohonan menjadi dinding sekolah. Kegiatan ini dinamakan Sekolah Hutan, sebuah program yang membuktikan bahwa baca tulis bisa dipelajari di mana saja, bahkan di tengah alam yang rimbun.
Kehadiran TNI AD di tengah masyarakat desa bukan hanya tentang keamanan, tapi juga tentang kehadiran yang menumbuhkan harapan. Anak-anak yang sebelumnya putus akses pendidikan kini bisa belajar secara gratis dan menyenangkan. Mereka tidak hanya belajar huruf, tapi juga belajar bersosialisasi, percaya diri, dan mencintai alam sekitar. Suasana belajar pun terasa hangat, karena setiap anak diperlakukan seperti keluarga sendiri.
Gotong Royong TNI dan Warga Menumbuhkan Harapan
Tak hanya Serma Dewi yang hadir, orang tua anak desa juga ikut ambil peran. Mereka bergotong royong menyediakan makanan ringan sederhana untuk mengganjal perut anak-anak yang belajar dengan penuh semangat. Suasana di Sekolah Hutan sungguh akrab, penuh tawa, dan saling berbagi. Program ini diikuti oleh 25 anak dari tiga desa, dan setiap minggunya kian terasa seperti keluarga besar yang tumbuh bersama. Berikut adalah manfaat yang dirasakan warga:
- Anak-anak desa yang sebelumnya putus akses pendidikan kini bisa belajar baca tulis secara gratis dan menyenangkan.
- Kehadiran prajurit wanita TNI AD membangun kedekatan emosional antara tentara dan masyarakat desa.
- Orang tua ikut terlibat, menciptakan semangat gotong royong dan rasa memiliki terhadap Sekolah Hutan.
- Anak-anak tidak hanya belajar huruf, tapi juga belajar bersosialisasi, percaya diri, dan mencintai alam sekitar.
Setiap sore, ketika kegiatan usai, anak-anak pulang dengan membawa coretan penuh makna dan senyum yang tak lekas hilang. Bagi mereka, Sekolah Hutan bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua yang hangat. Dan di balik setiap huruf yang tertulis, ada harapan baru yang dipupuk oleh kasih sayang seorang prajurit wanita TNI AD dan semangat gotong royong warga. Semoga kehangatan ini terus menyala, mengingatkan kita semua bahwa pendidikan adalah milik semua anak, di mana pun mereka berada.