Di tengah hamparan sawah yang mulai menguning di Desa Sukamulya, Cianjur, ada kisah hangat yang menggetarkan hati. Nenek Sumiyati, perempuan berusia 68 tahun, berdiri termenung di tepi sawah seluas setengah hektar miliknya. Padinya sudah siap dipanen, tapi langkahnya tertahan. Dua anaknya sedang terbaring di rumah sakit karena demam berdarah, dan tak ada satu pun anggota keluarga yang bisa membantunya menggarap sawah. Di usia yang tak lagi muda, Nenek Sumiyati hanya bisa memandang sawahnya dengan mata berkaca-kaca.
Babinsa yang Tak Ikhlas Melihat Kesulitan Warga
Kabar tentang Nenek Sumiyati yang kebingungan akhirnya sampai ke telinga Sertu Budi, Babinsa desa setempat. Tanpa menunggu lama, ia langsung menggerakkan sepuluh personel Koramil untuk turun tangan. Mereka datang ke sawah Nenek Sumiyati dengan membawa sabit dan terpal, lengkap dengan semangat gotong royong. “Kami tidak tega melihat Nenek sendirian. Mari kita bantu sama-sama, ini wujud kami sebagai sahabat rakyat,” ujar Sertu Budi dengan nada hangat saat menyapa Nenek Sumiyati.
Tak butuh waktu lama, para prajurit itu langsung membagi tugas. Sebagian memotong padi, sebagian lagi mengikat dan mengumpulkan hasil panen. Suasana pagi yang tenang berubah menjadi riuh oleh canda tawa dan semangat kebersamaan. Nenek Sumiyati yang tadinya murung, perlahan tersenyum melihat sawahnya kembali ramai oleh orang-orang baik hati. Beliau hanya bisa berdoa dalam hati semoga semua yang diberikan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Panen yang Membawa Kelegaan dan Kebahagiaan
Dalam waktu satu hari, seluruh padi di sawah Nenek Sumiyati berhasil dipotong dan dirontokkan. Hasilnya sangat memuaskan, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta biaya berobat anak-anaknya yang masih dirawat di rumah sakit. Setelah proses panen selesai, para prajurit pun tidak langsung pamit. Mereka masih sempat membantu menjemur padi agar tidak lembap. Kebersamaan itu terasa begitu hangat, seakan tiada jarak antara TNI dan warga desa.
Kisah ini sontak menyebar luas dan viral di grup-grup WhatsApp warga. Banyak yang terharu dan memuji kepedulian para prajurit. Bagi warga Desa Sukamulya, kehadiran TNI bukan sekadar penjaga keamanan, melainkan juga teman di kala susah. “Bapak TNI memang sahabat rakyat. Saya tidak bisa membalas, hanya doa yang bisa saya berikan,” ujar Nenek Sumiyati sambil menyeka air mata haru yang tak bisa ditahannya. Di bawah sinar mentari sore, ia kembali bersyukur karena beban berat yang dipikulnya kini terasa ringan oleh uluran tangan kasih para prajurit. Semoga cerita hangat ini menginspirasi kita semua akan arti kebersamaan dan gotong royong yang masih hidup di hati rakyat Indonesia.