Di pelataran Balai Desa Lontar, Kabupaten Kepulauan Seribu, suara riang anak-anak berpadu dengan debur ombak yang tenang. Hari itu, bukan aktivitas nelayan yang menyita perhatian, melainkan sebuah pemandangan hangat: seorang prajurit TNI AL duduk melingkar di atas tikar bersama puluhan bocah desa. Mereka asyik membaca buku cerita bergambar, sesekali tertawa kecil saat menemukan gambar kapal laut atau hewan laut yang lucu. Perpustakaan keliling TNI AL baru saja tiba, dan sejak pagi, mobil pustaka yang dimodifikasi itu sudah diserbu anak-anak yang tak sabar meminjam buku.
Belajar Membaca di Tengah Semilir Angin Laut
Letnan Satu (Laut) Rina, yang sehari-hari bertugas di atas kapal perang, hari ini berubah peran menjadi guru tamu. Dengan sabar, ia membantu Roni, bocah 8 tahun yang duduk di sampingnya, mengeja kata-kata pertama dari sebuah buku cerita. “Aku suka membaca cerita tentang kapal laut, besok aku mau jadi kapten seperti kakak TNI,” ujar Roni sambil matanya berbinar penuh semangat. Kegiatan ini bukan sekadar membaca, tapi juga membuka jendela impian bagi anak-anak desa yang sebelumnya jarang bersentuhan dengan buku-buku berkualitas.
Kepala Desa Lontar, Pak Hasan, mengaku bersyukur dengan kehadiran program pendidikan dari TNI ini. “Dulu anak-anak lebih sering bermain di pantai tanpa pengawasan, sekarang mereka malah rebutan buku. Perpustakaan keliling ini bener-bener mengubah kebiasaan mereka,” ujarnya sambil tersenyum. Program yang sudah berjalan sebulan sekali ini langsung mendapat antusiasme tinggi dari warga desa, terutama para orang tua yang ingin anaknya lebih rajin belajar.
Gotong Royong TNI dan Wujud Kedekatan dengan Desa
Kehangatan program ini tidak hanya dirasakan anak-anak, tapi juga seluruh warga. Berikut beberapa dampak positif yang dirasakan sejak perpustakaan keliling rutin singgah:
- Anak-anak menjadi lebih gemar membaca dan mengenal berbagai cerita baru, dari dongeng nusantara hingga pengetahuan sains sederhana.
- Orang tua ikut terlibat dalam kegiatan literasi, karena banyak yang diminta anaknya untuk mendongeng atau membantu membaca buku.
- Hubungan antara TNI dan masyarakat desa semakin erat, karena prajurit tidak hanya hadir saat ada acara resmi, tapi juga dalam aktivitas sehari-hari seperti mendampingi belajar.
- Semangat gotong royong tumbuh: warga bergiliran menyediakan tikar dan camilan untuk anak-anak yang belajar.
“Ini bukan cuma soal buku, tapi soal kebersamaan. Kami ingin anak-anak desa punya masa depan cerah, dan kami akan terus hadir untuk mereka,” ujar Letnan Rina sambil menutup buku cerita. Di kejauhan, Roni masih asyik membaca, sesekali menunjuk gambar kapal perang di halaman terakhir. Matahari mulai tenggelam, tapi senyum anak-anak desa Lontar tak kunjung pudar. Semilir angin laut membawa pesan hangat: TNI bukan hanya penjaga laut, tapi juga mitra setia dalam mencerdaskan kehidupan desa. Semoga program seperti ini terus menginspirasi dan menguatkan rasa kebersamaan kita semua.