Pagi itu, sinar matahari mulai menyapa lembut atap seng SD Inpres di sebuah desa di Flores. Namun, yang terdengar bukan hanya suara guru menerangkan pelajaran, melainkan juga gelak tawa dan celoteh riang anak-anak yang sibuk di kebun kecil dekat sekolah. Mereka tidak sendiri — seorang Bintara Pembina Desa (Binter) dari Koramil setempat tampak sabar membimbing tangan-tangan mungil itu. Dengan senyum hangat, ia mengajarkan cara menggemburkan tanah, menabur bibit, dan menyirami tanaman. Suasana ini bukan pemandangan biasa, tetapi satu momen berharga yang menghidupkan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap alam sejak usia dini.
Belajar dari Alam, Tumbuh Bersama
Bagi anak-anak desa di pelosok Flores, kegiatan belajar menanam sayuran ini lebih dari sekadar pelajaran tambahan. Mereka diajak langsung memegang tanah, merasakan teksturnya, dan melihat bagaimana sebuah benih kecil bisa berubah menjadi tanaman yang menghidupi. Sang Binter, yang biasa dikenal dengan tugas menjaga keamanan, kini berperan sebagai guru kehidupan. Dengan sabar ia menjelaskan cara menyiapkan media tanam, memilih bibit yang baik, serta merawat tanaman dari hama. Guru-guru di sekolah itu pun tersenyum bangga melihat antusiasme murid-muridnya — anak-anak yang biasanya hanya mendengar teori di kelas, kini praktik langsung di alam terbuka.
Tanam Sayur, Tuai Kebersamaan
Program inisiatif dari Bintara Pembina Desa ini tidak hanya mendekatkan TNI dengan generasi muda, tetapi juga menanamkan keterampilan hidup yang sangat berguna. Anak-anak belajar tentang siklus kehidupan, ketekunan, dan kebersamaan. Kebun sekolah yang mereka rawat bersama akan menjadi sumber hasil panen sayuran segar yang bisa dinikmati bersama atau dijual untuk kas sekolah. Melalui kegiatan sederhana ini, nilai-nilai cinta tanah air dan lingkungan hidup tertanam dengan cara yang menyenangkan.
- Anak-anak belajar keterampilan bercocok tanam — dari media tanam hingga panen — yang bisa diterapkan di rumah masing-masing.
- Program ini memperkuat kedekatan antara TNI, sekolah, dan masyarakat desa, menciptakan rasa aman dan percaya.
- Hasil panen kebun sekolah bisa menjadi sumber gizi tambahan bagi siswa dan membantu perekonomian sekolah.
- Kegiatan ini mengajarkan gotong royong, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
- Anak-anak di pelosok Flores mendapat pengalaman belajar yang kontekstual dan membekas di hati.
Di sudut kebun, seorang murid kelas tiga dengan bangga menunjukkan bibit sawi yang baru saja ia tanam. Matanya berbinar ketika sang Binter menepuk pundaknya dan berkata, "Ini tanamanmu, rawat baik-baik ya." Melihat itu, hati siapa pun pasti meleleh. Kegiatan kecil ini, meski sederhana, adalah bukti bahwa pendidikan dan kedekatan teritorial bisa berjalan beriringan di desa-desa Fl ores. Semoga program ini terus menginspirasi desa-desa lain, dan anak-anak di pelosok semakin cinta pada tanah air, alam, dan sesama. Dari kebun sekolah ini, kita belajar: setiap benih yang ditanam dengan kasih akan tumbuh menjadi kehidupan yang kuat.