Bayangkan pagi di Kampung Ninggeya, Distrik Wano Barat, Lanny Jaya. Matahari memang bersinar, tapi bukan hangat yang terasa—melainkan rasa haus yang mengeringkan tanah dan harapan. Musim kemarau panjang telah meretakkan ladang, membuat persediaan pangan warga menipis. Di salah satu honai, Bapa Teremia duduk dengan wajah lesu. Perutnya kosong, tapi hatinya bertanya-tanya: adakah yang akan peduli dengan nasib mereka yang tinggal di pelosok ini? Jawabannya datang dari arah yang tak terduga Rabu (16/9) lalu, ketika para prajurit dari Pos TK Ninggeyagin, Satgas Yonif 742/SWY, tidak sekadar menjalankan patroli biasa. Mereka sengaja menyusuri honai-honai warga—bukan untuk mencari sesuatu, tapi untuk menyapa dan mendengarkan. Ketika langkah mereka berhenti di depan honai Bapa Teremia, percakapan pun dimulai. Dengan bahasa yang sederhana, Bapa Teremia bercerita tentang kesulitan keluarganya mendapatkan bahan makanan akibat kekeringan yang berkepanjangan. Tanah yang tak mau memberi, dan perut yang tak bisa dibohongi.
Di Balik Retakan Tanah, Ada Tangan yang Terulur
Mendengar cerita itu, hati para prajurit langsung tergerak. Mereka sadar, bekal yang mereka bawa untuk perjalanan bukan hanya untuk mereka sendiri. Tanpa ragu, mereka membuka tas punggung dan mulai membagikan bantuan logistik yang ada—sekantong beras, mi instan, kaleng ikan. Bukan jumlah besar, tetapi bagi Bapa Teremia dan tetangganya, itu adalah cahaya di tengah kegelapan. Bantuan berharga ini diterima dengan air mata haru. “Kami tak menyangka ada yang mau berbagi,” ujar Bapa Teremia lirih. Tak hanya pangan, personel Satgas juga menyempatkan diri memeriksa kesehatan warga. Beberapa warga mengeluh batuk dan demam akibat cuaca ekstrem. Dengan perlengkapan seadanya, mereka memberikan obat dan vitamin. Momen ini makin erat dan hangat—dari awalnya canggung karena kendala bahasa, kini canda dan senyum mulai terhampar di antara seragam hijau dan honai tradisional. Berikut rincian bentuk kepedulian yang mereka berikan:
- Bantuan logistik langsung disalurkan berupa bahan pokok dan makanan instan untuk meringankan beban keluarga Bapa Teremia dan warga sekitar.
- Layanan kesehatan dilakukan secara gratis, menyasar warga yang menderita penyakit ringan akibat musim kekeringan.
- Para prajurit juga mendata kebutuhan jangka panjang untuk koordinasi bantuan lanjutan dari Pos TK Ninggeyagin.
Bukan Sekadar Patroli, Ini Bukti Kedekatan TNI dengan Rakyat
“Kehadiran kami adalah untuk menjadi pelindung dan pengayom,” tegas Komandan Satgas, Letkol Inf Dedi Risdiantoro. Kata-kata itu bukan sekadar jargon di papan spanduk. Di Ninggeya, warga melihat sendiri wujud nyata pengayoman itu: berbagi makanan di saat susah, mendengar keluh kesah tanpa sekat pangkat, dan mengulurkan tangan tanpa pamrih. Program teritorial seperti ini bukanlah yang pertama kali dilakukan; di berbagai kecamatan di Lanny Jaya, Satgas Yonif 742/SWY selalu hadir sebagai sahabat warga desa. Kendala bahasa dan rasa canggung awal memang sempat membayangi, tetapi empati mampu menjembatani semuanya. Tatapan mata, senyum, dan genggaman tangan—itulah bahasa universal yang dipahami semua orang.
Kisah di Kampung Ninggeya ini menjadi pengingat bahwa di tengah kekeringan yang menyulitkan, masih ada tangan-tangan hangat yang terulur. Bantuan logistik yang diberikan mungkin sederhana, tapi maknanya begitu dalam. Ini bukan sekadar beras atau mi instan; ini adalah pesan bahwa tidak ada seorang pun yang berjuang sendirian. Warga Ninggeya pun kembali tersenyum, karena mereka tahu, di balik seragam hijau, ada saudara sebangsa yang selalu siap berbagi. Semoga kehangatan ini terus mengalir, mengairi ladang-ladang kehidupan di pelosok negeri.