Pagi itu, kabut masih setia menyelimuti Distrik Mugi, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Di balik pegunungan yang menjulang dan udara dingin yang menusuk, ada hangat yang tak terkira saat truk bantuan sembako Merah Putih akhirnya tiba. Warga yang sejak subuh berkumpul di lapangan kecil desa sontak berteriak kegirangan. Anak-anak berlarian, para ibu dan bapak-bapak bergegas mendekat, dan suasana haru langsung terasa ketika seorang nenek, Mama Yuliana yang berusia 70 tahun, memeluk erat karung beras yang baru saja diturunkan. “Ini jawaban doa kami. Terima kasih Bapak Presiden dan TNI,” ucapnya dengan suara bergetar penuh syukur.
Perjalanan Panjang yang Menghangatkan Hati
Menempuh perjalanan darat dan udara selama dua hari penuh dengan pesawat perintis yang menantang bukanlah hal mudah. Namun, semangat para petugas, seperti Kopda Ahmad, Babinsa setempat, tak pernah padam. Dengan sigap ia ikut menurunkan barang-barang bantuan dari truk. “Kami harus datang langsung karena medan berat. Tapi senang bisa melihat senyum mereka,” ujarnya sambil menyeka keringat. Bantuan ini bukan sekadar barang, melainkan wujud nyata kepedulian negara terhadap saudara-saudara kita di daerah 3T. Setiap karung beras, botol minyak, bungkus gula, dan kaleng susu adalah bukti bahwa tidak ada yang terlupakan — bahkan di sudut paling terpencil sekalipun.
Apa yang Dibawa untuk Warga?
- Beras 10 kg — menjadi sumber karbohidrat utama yang akan menopang kebutuhan keluarga selama beberapa minggu ke depan.
- Minyak goreng — membantu ibu-ibu memasak lauk sederhana tanpa harus khawatir harga naik.
- Gula pasir — bisa dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi, dan juga untuk membuat kue tradisional.
- Susu untuk anak-anak — memberikan asupan gizi tambahan bagi generasi masa depan Papua.
Kisah haru tak hanya datang dari Mama Yuliana. Beberapa warga lain juga tak kuasa menahan air mata saat menerima bantuan. Salah seorang ibu muda, Maria, mengaku sudah dua hari tidak bisa membeli beras karena jalan ke pasar terputus longsor. “Ini seperti keajaiban. Kami benar-benar tidak berharap, tapi Tuhan mengirim lewat tangan TNI,” katanya sambil menggendong bayinya. Bansos ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan nasional yang memang dirancang untuk menjangkau daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal). Di balik setiap karung bantuan, ada semangat gotong royong dan rasa kebersamaan yang menembus batas jarak dan medan.
Ketika senja mulai merambat di ufuk timur, desa itu tidak lagi sunyi. Candaan dan obrolan hangat terdengar dari rumah-rumah warga. Mereka saling berbagi cerita, dan yang paling utama — berbagi harapan. Bantuan sembako ini memang hanya secuil dari kebutuhan besar yang masih ada, tetapi bagi Mugi, hari ini adalah bukti bahwa negara hadir. Bahwa di balik gunung dan awan, ada tangan-tangan yang selalu siap mengulurkan bantuan. Dan seperti kata Mama Yuliana, “Kami tidak sendiri. Ada saudara yang terus menjaga kami.”