Pagi itu, Desa Cikembang di Lebak, Banten, belum sepenuhnya terjaga. Embun masih menempel di dedaunan, tapi udara sudah dipenuhi suara cangkul dan sapaan hangat. Hujan deras semalaman ternyata meninggalkan 'oleh-oleh' yang tak terduga: longsor kecil yang menutup akses jalan desa. Tanah merah bercampur bebatuan bergelimpangan, menutup satu-satunya jalur yang biasa dilalui warga untuk pergi ke kebun dan mengantar anak-anak ke sekolah. Tak ada yang mengeluh, mereka justru bergerak bersama.
Pagi Buta di Desa Cikembang: Longsor Datang, Gotong Royong Menyambut
Begitu matahari mulai muncul di ujung bukit, warga Desa Cikembang sudah berkumpul. Mereka datang dengan cangkul, pengki, dan sekop yang biasa dipakai sehari-hari. Tak ketinggalan, Babinsa dan anggota kepolisian setempat turun langsung bahu-membahu. Bagi warga desa, kehadiran seragam hijau dan cokelat itu bukanlah hal asing. Mereka adalah bagian dari keseharian, teman saat susah dan senang. Yang membuat suasana makin hangat, gotong royong ini berlangsung alami, seperti air sungai yang mengalir tanpa perlu diperintah.
- Alat sederhana, semangat luar biasa — Cangkul dan pengki menjadi senjata utama untuk memecah tanah yang mengeras dan mengangkat lumpur.
- Gerobak kayu milik pemuda — Beberapa pemuda membawa gerobak untuk mengangkut material longsor ke tempat pembuangan, meringankan beban warga lain.
- Tawa canda di tengah kerja keras — Meski dahi berkeringat, tak terlihat wajah lelah. Justru canda dan obrolan ringan membuat pekerjaan berat terasa ringan.
Ada Bu Tini, seorang ibu yang biasanya berjualan di kebun, hari itu ikut mengumpulkan bebatuan kecil di pinggir jalan. “Biar nanti anak-anak bisa lewat dengan selamat,” katanya sambil tersenyum. Pak RT juga tak ketinggalan, mengatur pembagian tugas agar semua kebagian peran. Suasana gotong royong itu mengalir seperti air sungai, alami dan penuh kehangatan.
Bukan Sekadar Bersihkan Jalan, Tapi Rawat Kemanunggalan
Tiga jam sudah berlalu. Jalan yang tadi tertutup kini mulai terlihat. Material longsor berhasil disingkirkan, dan akses desa kembali terbuka lebar. Warga bersyukur karena aktivitas tidak terganggu lama — anak-anak tetap bisa berangkat sekolah tanpa terlambat, dan petani bisa melanjutkan perjalanan ke kebun. Lebih dari itu, peristiwa ini mengingatkan mereka akan kekuatan kebersamaan. Bagi warga Desa Cikembang, bencana desa seperti longsor kecil bukanlah akhir segalanya. Justru di situlah kemanunggalan TNI dan rakyat teruji. Babinsa yang ikut bergotong royong bukan sekadar menjalankan tugas, tapi hadir sebagai saudara. Polisi pun tak sungkan mengangkat lumpur dengan tangan kosong. Di setiap keringat yang bercucuran, ada cerita tentang rasa peduli dan saling bahu-membahu.
Matahari semakin tinggi saat jalan bersih terbentang. Warga kembali beraktivitas seperti biasa, tapi hati mereka lebih hangat dari sebelumnya. Longsor mungkin terjadi lagi esok hari, atau bencana lain datang tanpa diundang. Namun selama semangat gotong royong masih ada, selama TNI dan rakyat tetap bersatu, Desa Cikembang akan selalu kuat. Di desa ini, gotong royong bukan sekadar tradisi — ia adalah napas kehidupan yang mengikat semua orang dalam satu keluarga besar.