Di pelosok Maluku Tenggara, tepatnya di Desa Waisisi, hari itu langit tampak masih mendung usai hujan deras semalaman. Jalan setapak yang biasa dilalui warga berubah menjadi lumpur licin dan berbatu, membuat setiap langkah terasa berat. Namun, di tengah kesulitan itu, ada secercah kehangatan yang menyentuh hati. Serda Ali, seorang babinsa yang bertugas di desa tersebut, tanpa ragu menggendong ibu hamil bernama Ibu Rina yang hendak memeriksakan kandungannya ke puskesmas. “Saya kuat kok, Bu. Yang penting dedeknya sehat,” ujarnya dengan senyum menenangkan, sambil melangkah hati-hati di jalan rusak sepanjang dua kilometer. Pemandangan ini sontak membuat warga yang melihatnya terharu, beberapa di antaranya bahkan merekam momen itu dan membagikannya di media sosial. Kisah kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa di balik seragam loreng, tersimpan hati yang lembut dan penuh kepedulian.
Gotong Royong dan Rasa Dekat di Tengah Kesulitan
Kejadian ini bukanlah yang pertama bagi Serda Ali. Sebagai babinsa, ia memang sudah terbiasa dekat dengan warga dan selalu siap sedia membantu kapan pun dibutuhkan. Menurut penuturan Kepala Desa Waisisi, kondisi jalan yang rusak sudah lama menjadi keluhan warga, terutama bagi ibu hamil dan lansia yang harus berobat ke puskesmas. Melihat kepedulian Serda Ali, kepala desa pun berencana mengusulkan perbaikan jalan rusak tersebut ke pemerintah kabupaten. Sementara itu, warga pun bergotong royong membersihkan jalan dari batu-batu besar yang menghalangi, sebagai bentuk dukungan untuk sesama.
- Serda Ali rutin mengunjungi warga untuk memantau kondisi kesehatan dan keamanan desa.
- Program kedekatan teritorial TNI membuat babinsa seperti saudara sendiri di masyarakat.
- Warga berharap perbaikan jalan segera terealisasi agar akses ke puskesmas lebih mudah dan aman.
Kisah Kemanusiaan yang Menggerakkan Hati
Setelah video aksi Serda Ali viral di media sosial, banyak netizen yang memberikan dukungan dan doa untuk Ibu Rina serta salut pada dedikasi sang babinsa. Namun, Serda Ali tetap rendah hati. “Ini tugas saya sebagai babinsa, dekat dengan rakyat. Bukan cuma soal keamanan, tapi juga kemanusiaan,” katanya saat ditemui di pos kamling desa. Ibu Rina sendiri tak kuasa menahan air mata saat mengenang kejadian itu. “Terima kasih Pak Babinsa, saya dan calon bayi saya selamat karena beliau,” ucapnya terbata-bata. Kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada tangan-tangan hangat yang siap membantu tanpa pamrih.
Semoga kisah Serda Ali dan Ibu Rina menjadi pemicu semangat kita semua untuk saling peduli, terutama di desa-desa pelosok yang masih membutuhkan perhatian. Karena kebersamaan dan gotong royong adalah kekuatan kita bersama, dan setiap langkah kecil yang penuh kasih akan selalu meninggalkan jejak kehangatan di hati warga desa.