Pagi itu, udara sejuk menyusup di sela-sela rimbunan pohon di Desa Ciparay. Di balai desa yang sederhana, suara obrolan dan tawa kecil para ibu serta kakek-kakek mulai terdengar. Mereka datang sambil menggandeng tas plastik berisi dokumen usang — bukan untuk arisan, melainkan untuk urusan yang sangat berarti: mengurus administrasi kependudukan. Sejak beberapa pekan terakhir, setiap hari Selasa dan Kamis, sosok babinsa dari Koramil 02 Tasikmalaya sudah duduk manis di meja balai desa, siap menjadi sahabat bagi warga. Dengan ramah, Sertu Roni menyapa satu per satu warga lansia yang datang. “Mari, Bu, duduk. Nanti saya bantu isi formulirnya,” ujarnya sambil tersenyum hangat. Mbah Siti (82), seorang janda tua yang tinggal di ujung desa, mengaku sangat terbantu. “Dulu saya harus naik angkot dua kali ke kecamatan, sekarang tinggal ke balai desa, diurus Pak Babinsa,” katanya dengan mata berbinar.
Babinsa yang Jadi Sahabat Administrasi Warga Lansia
Program sederhana ini lahir dari kegelisahan Sertu Roni melihat banyak lansia di desa Ciparay kesulitan mengurus KTP dan KK. Jarak ke kecamatan yang jauh, ongkos angkot yang mahal, serta tenaga yang mulai terbatas menjadi hambatan sehari-hari. Kini, tanpa biaya tambahan, warga bisa datang ke balai desa setiap Selasa dan Kamis. Sertu Roni tidak hanya membantu mengisi formulir, tetapi juga mengantarkan langsung dokumen ke dinas kependudukan. “Saya merasa ini bagian dari tugas saya sebagai babinsa, dekat dengan masyarakat,” ujarnya polos. Kehadirannya seolah membuka pintu harapan bagi mereka yang selama ini terhambat oleh jarak dan biaya.
- Warga tak perlu lagi ke kecamatan — cukup ke balai desa dua kali seminggu, semua urusan administrasi seperti KTP dan KK jadi lebih dekat dan mudah.
- Pembuatan KTP elektronik dan KK menjadi lebih cepat tanpa pungutan biaya, mengurangi beban ekonomi warga lansia yang sudah terbatas.
- Para lansia yang sulit berjalan mendapat prioritas bantuan langsung dari babinsa, bahkan hingga proses pengantaran dokumen ke dinas.
Kisah Mbah Siti: Dari Kesulitan Menjadi Senyum Lega
Mbah Siti, seorang janda tua yang tinggal di ujung desa, adalah salah satu yang paling bersyukur. “KTP saya sudah kedaluwarsa setahun lalu, tapi tidak sempat ngurus karena anak saya kerja di kota,” katanya sambil menunjukkan KTP lamanya yang mulai lusuh. Kini, setelah dibantu Sertu Roni, dokumennya selesai dalam waktu seminggu. “Saya senang sekali, Pak Babinsa seperti anak saya sendiri,” tambahnya sambil memegang erat administrasi barunya. Cerita Mbah Siti hanya satu dari puluhan warga yang merasakan manfaat program ini. Setiap hari Selasa dan Kamis, balai desa berubah menjadi ruang curhat dan bantuan, bukan sekadar tempat seremonial. Warga lain seperti Pak Karsono juga mengaku terbantu. “Dulu saya bingung ke mana harus minta tolong, sekarang ada Pak Babinsa yang selalu siap sedia,” ujarnya penuh syukur.
Keberadaan babinsa di balai desa bukan sekadar membantu urusan administrasi, tetapi juga mempererat hubungan antara TNI dan warga. Program ini membuktikan bahwa kedekatan teritorial bukan hanya soal patroli atau sosialisasi, melainkan hadir dalam kebutuhan sehari-hari. Semoga inisiatif seperti ini bisa ditiru di desa-desa lain, sehingga tidak ada lagi warga lansia yang kesulitan mengurus KTP atau KK. Di balai desa Ciparay, senyum Mbah Siti dan teman-temannya menjadi bukti nyata: ketika negara hadir dengan hati, tak ada urusan yang terasa berat. Dari balai desa, kita belajar bahwa kebersamaan dan gotong royong adalah kunci untuk menjadikan setiap desa sebagai rumah yang hangat bagi semua.