Di Sumba Tengah, musim kemarau tahun ini terasa begitu panjang. Matahari menyengat tanpa ampun, debu beterbangan di jalan-jalan kampung, dan sumber air yang biasa mengalir perlahan mengering. Warga harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan air bersih, rasa haus mulai mengintai setiap rumah. Namun di saat genting seperti ini, harapan datang dari sosok-sosok berseragam hijau—Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang dengan setia mendampingi warga. Mereka bukan sekadar petugas, melainkan bagian dari keluarga besar warga desa yang turun langsung mengatasi kekeringan dengan teknologi sumur bor.
Gotong Royong di Tengah Kekeringan
Begitu berita kekeringan menyebar, Babinsa bergerak cepat. Mereka tak hanya berkoordinasi dengan pemerintah desa, tetapi juga ikut memegang alat bor dan menggali tanah bersama warga. Proses pengeboran sumur baru menjadi pemandangan yang mengharukan. Dengan penuh kesabaran, para Babinsa memastikan setiap tahap berjalan lancar. Setetes air yang akhirnya muncul dari dalam tanah disambut sorak gembira warga. Bagi mereka, sumur bor ini adalah sumber kehidupan baru, tempat anak-anak bisa kembali tertawa mandi dan ibu-ibu mencuci tanpa rasa cemas.
- Air bersih untuk lansia dan balita: Babinsa membantu mengatur distribusi air dari sumur bor ke rumah-rumah yang paling membutuhkan, terutama yang dihuni warga lanjut usia dan keluarga dengan balita.
- Teknologi sederhana, dampak besar: Sumur bor yang digerakkan tenaga manual atau pompa listrik sederhana menjadi solusi cepat di saat pipa air desa tak lagi mengalir.
- Semangat gotong royong kembali hidup: Setiap tetes air yang mengalir dari kran adalah hasil kerja keras bersama antara TNI, pemerintah desa, dan warga setempat.
Babinsa: Ujung Tombak yang Menyentuh Hati
“Tugas kami di desa adalah membantu sepenuh hati,” ujar Sertu Andi, salah seorang Babinsa yang kesehariannya berada di tengah warga. Kata-kata itu bukan sekadar formalitas. Mereka benar-benar hadir setiap pagi, ikut memikul pipa, mengatur jadwal pembagian air, dan memastikan tidak ada satu pun warga yang kehausan. Kehadiran Babinsa di Sumba Tengah adalah wajah TNI yang dekat dengan denyut nadi masalah rakyat. Dari persoalan sederhana seperti air bersih hingga hal-hal yang lebih kompleks, mereka selalu siap terjun dengan semangat kekeluargaan.
Malam hari di desa kecil itu, setelah air sumur bor mulai mengalir deras, warga berkumpul di bawah pohon beringin. Mereka duduk melingkar, menikmati secangkir kopi yang diseduh dengan air sumur baru. Senyum tak henti menghiasi wajah mereka. Bocah-bocah berlarian dengan ember plastik, berteriak gembira saat air memercik ke tanah. Di sudut, Sertu Andi tersenyum tipis. Ia tahu bahwa tugasnya belum selesai, tetapi setidaknya malam ini, tidak ada lagi tangisan haus di kampung ini. Kebersamaan dan gotong royong adalah kunci, dan Babinsa menjadi pengingat bahwa di saat susah, kita tidak pernah sendirian. Semoga semangat ini terus mengalir, seperti air yang tak pernah berhenti memberi kehidupan.