Di Dusun Sumbersari, Desa Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, ada seorang lansia bernama Mbah Karto yang usianya sudah menginjak 78 tahun. Sejak istrinya tiada, ia tinggal sendirian di rumah sederhana yang hanya ditemani suara angin dan kandang ayam di belakang. Setiap pagi, ia duduk di beranda kecil sambil memandang jalan setapak, berharap ada orang yang singgah. Hari itu, harapannya kembali terjawab — langkah kaki berseragam loreng terlihat menyusuri tikungan desa.
Serda Ari Wibowo, babinsa dari Koramil 0818/03, datang dengan senyum dan sepaket sembako di tangannya. Di dalam bungkusan itu ada beras, minyak, gula, dan telur — kebutuhan pokok yang sangat berarti bagi Mbah Karto. "Saya sudah seperti anak sendiri," ucap Mbah Karto sambil menyeka air mata haru. Baginya, kehadiran babinsa ini bukan hanya sekadar memberi, tetapi juga mengobati rasa sepi yang selama ini menemani hari-harinya.
Hadir Seperti Anak Sendiri di Tengah Keterbatasan
Bagi Serda Ari, bertemu dengan para lansia di pelosok bukanlah rutinitas yang membosankan. Justru dari sanalah ia merasa dipanggil hati untuk terus peduli. Selain menyerahkan sembako, ia juga menyempatkan diri membersihkan rumah Mbah Karto. Sapu dan kain pel bergerak lincah di tangannya, seolah ia sedang merawat rumah orang tuanya sendiri. Tak ketinggalan, ia mengecek kondisi kesehatan sederhana, seperti tekanan darah dan keluhan fisik yang kerap dirasakan Mbah Karto.
Apa yang dilakukan babinsa ini sungguh sederhana, tetapi dampaknya sangat dalam. Dalam kunjungan itu, ada beberapa hal hangat yang dilakukan:
- Mengantarkan sembako berisi beras, minyak, gula, dan telur untuk kebutuhan sehari-hari;
- Membersihkan rumah dan halaman agar lansia tinggal di lingkungan yang sehat;
- Mengecek kesehatan sederhana seperti tekanan darah dan keluhan fisik;
- Menemani para lansia berbincang, mendengarkan kisah, dan menguatkan hati mereka.
Program Kedekatan Teritorial: Menjangkau yang Tidak Terlupakan
Kegiatan yang dilakukan Serda Ari ini bukan aksi dadakan. Ini adalah bagian dari program bantuan sosial yang digagas oleh Korem 0818, dengan sasaran 50 lansia di lima desa terpencil sekitar Kabupaten Malang. Bantuan sembako memang kecil, tetapi nilai kebersamaan yang dibawanya sangat besar. Para lansia yang selama ini merasa hidup sendiri mulai tersenyum lagi, karena tahu bahwa ada yang memikirkan dan memperhatikan mereka.
Dari Dusun Sumbersari hingga sudut-sudut desa lain, kisah hangat ini menyebar pelan. Warga pun ikut merasakan bahwa kehadiran babinsa bukan sekadar formalitas. Mereka melihat sosok prajurit yang dekat, yang mau mendengarkan keluh kesah, dan yang peduli sampai ke dapur-dapur sederhana. Di balik seragam loreng, ada senyum yang menenangkan dan tangan yang siap membantu.
Mbah Karto mungkin kembali duduk sendirian di beranda setelah kunjungan itu. Namun kali ini, ada beda di hatinya. Ia tahu bahwa negara hadir, bukan hanya lewat program, tetapi juga lewat hati yang tulus. Dan ketika langkah kaki berseragam loreng itu datang lagi, pintu rumah Mbah Karto akan selalu terbuka — seperti pintu hati yang tidak pernah padam untuk berharap dan diperhatikan.