Di sudut tenang Desa Nanggung, Kabupaten Bogor, baru saja hujan reda. Aroma tanah basah masih menyatu dengan semilir angin yang membawa kesejukan. Di balik rimbunnya pepohonan, tersimpan cerita tentang perjuangan dan harapan warga yang selama ini tinggal di rumah-rumah sederhana — dinding anyaman bambu, atap rumbia yang bocor, dan lantai tanah yang becek saat hujan turun. Namun, dari tempat yang tampak jauh dari sorotan itu, hadir seorang Babinsa yang tak hanya berseragam loreng, tapi juga punya hati hangat untuk rakyat. Ia datang bukan sebagai aparat, melainkan sebagai tetangga, sahabat, dan jembatan bagi mimpi warga untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
Dari Mendengar Keluh Hingga Berbuah Nyata
Sertu Junaedi, Babinsa Koramil 03/Nanggung, tak kenal lelah. Setiap hari ia berjalan kaki menyusuri pematang sawah, melewati gang-gang sempit, dan singgah di setiap rumah yang atapnya bocor serta dindingnya rapuh. Tapi yang paling berharga bukanlah data yang ia catat di buku kecilnya, melainkan waktu yang ia habiskan untuk duduk bersama warga, mendengar cerita mereka sambil menyeruput kopi hitam di teras. “Saya tidak ingin warga merasa diabaikan. Saya datang untuk mendengar, bukan hanya memberi informasi,” ujarnya dengan tutur kata yang teduh. Dari obrolan sederhana itulah lahir aspirasi yang kemudian dibawa ke meja pemerintah desa dan jajaran Koramil, lalu diusulkan dalam program bedah rumah. Bagi Sertu Junaedi, setiap keluh adalah benih harapan yang harus dirawat bersama.
Bedah Rumah: Bukan Sekadar Tembok dan Genteng
Program bedah rumah ini bukan sekadar perbaikan fisik. Di balik setiap palu dan cetok, ada kisah perubahan hidup yang nyata. Bagi warga seperti Pak Jaja, rumah yang dulu hanya berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia kini telah berubah menjadi hunian kokoh dan nyaman. Ia tak kuasa menahan haru saat menceritakan pengalamannya. “Saya tidak pernah menyangka punya rumah yang layak. Terima kasih Pak Babinsa yang sudah memperjuangkan kami,” katanya dengan suara bergetar, menggenggam erat tangan Sertu Junaedi. Berikut adalah manfaat langsung yang dirasakan oleh penerima program:
- Dinding diganti dengan bata dan semen yang kuat, aman dari angin kencang dan hujan deras.
- Atap baru yang tidak bocor, sehingga anak-anak bisa tidur nyenyak tanpa khawatir basah kuyup.
- Lantai yang diplester, menjadikan rumah lebih bersih, sehat, dan mudah dibersihkan.
- Akses air bersih dan sanitasi yang memadai, mengurangi risiko penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
Setiap sentuhan perbaikan dari program bedah rumah bukan hanya tentang tembok dan genteng, melainkan tentang harga diri, martabat, dan masa depan yang lebih cerah bagi warga desa. Di Nanggung, program ini adalah wujud nyata bahwa TNI dan warga desa bisa berjalan bergandengan tangan, saling bahu-membahu membangun mimpi.
Dari langkah kecil Sertu Junaedi, dari setiap kunjungan dan dialog hangat, terbukti bahwa kepedulian adalah jembatan yang paling kuat. Di Desa Nanggung, rasa kebersamaan itu terus tumbuh — seperti embun pagi yang menyegarkan, seperti senyum warga yang kini menempati rumah layak huni. Semoga cerita ini mengingatkan kita semua bahwa di balik seragam loreng, ada hati tulus yang selalu siap mendengar, memperjuangkan, dan mengubah keluh menjadi asa. Karena sesungguhnya, pembangunan yang paling bermakna adalah yang lahir dari kebersamaan kita semua.