Pagi itu, udara di Desa Gumantar, Lombok Utara, masih terasa sejuk dan segar. Namun, semangat warga sudah membara saat mereka berkumpul di sepanjang saluran air yang tersumbat lumpur dan sampah. Di tengah kerumunan, tampak Serda Aris Munandar, Babinsa dari Koramil 1615-02, dengan cangkul di tangan, memimpin aksi gotong royong. Senyumnya merekah, menyapa ibu-ibu dan pemuda yang sudah siap bahu-membahu. Inilah gambaran kedekatan antara TNI dan masyarakat desa — bukan sekadar perintah, melainkan kerja bareng, saling membantu seperti saudara sendiri. Hujan deras beberapa hari terakhir membuat saluran irigasi dan drainase di permukiman tersumbat. Air mulai menggenang, mengancam rumah-rumah warga. Tak ingin menunggu bencana datang, Serda Aris bergerak cepat. Ia mengajak ibu-ibu dan pemuda setempat untuk membersihkan saluran air. Dalam waktu singkat, puluhan orang berkumpul dengan alat seadanya — cangkul, sekop, dan karung. Mereka bergotong royong mengangkut lumpur, sampah plastik, dan batu-batu besar yang menyumbat aliran. 'Gotong royong adalah budaya kita. Dengan saluran bersih, risiko banjir bisa ditekan,' ujar Serda Aris sambil menyekop lumpur yang basah. Suara cangkul dan tawa bergantian terdengar, menandakan semangat kebersamaan yang tak pernah pudar.
Pagi yang Sibuk, Namun Penuh Kehangatan
Setelah tiga jam bekerja keras, saluran sepanjang 500 meter pun kembali mengalir deras. Warga pun bergembira. Air yang tadinya menggenangi permukiman mulai surut, dan senyum lega terpancar dari wajah warga. Berikut adalah hasil nyata dari aksi gotong royong ini:
- Saluran irigasi sepanjang 500 meter berhasil dibersihkan dalam waktu tiga jam
- Genangan air di permukiman mulai surut setelah aliran lancar kembali
- Warga merasa lebih aman karena risiko banjir berkurang drastis
- Ibu-ibu turut serta menyediakan minuman dan makanan ringan untuk para pekerja
Kepala Desa Gumantar tak bisa menyembunyikan rasa harunya. 'Pak Aris seperti saudara sendiri. Ia tidak hanya memberi perintah, tapi juga turun langsung membantu kami. Ini contoh nyata kedekatan TNI dengan rakyat,' ujarnya sambil tersenyum. Kata-kata itu menggambarkan betapa program teritorial seperti ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud kepedulian yang tulus. Babinsa menjadi jembatan antara pemerintah dan warga desa, memastikan setiap masalah dihadapi bersama-sama. Di Lombok Utara, semangat gotong royong masih hidup dan menjadi kunci untuk menghadapi berbagai tantangan alam.
Babinsa dan Warga: Satu Hati, Satu Tujuan
Kisah pagi itu di Desa Gumantar bukan sekadar soal membersihkan saluran air. Ini adalah cerita tentang gotong royong yang hidup di tengah kehidupan desa. Ketika hujan kembali turun, air akan mengalir lancar tanpa menimbulkan banjir. Namun yang lebih penting, rasa persaudaraan antara Babinsa dan warga semakin erat. Serda Aris bukan hanya seorang prajurit, ia adalah tetangga, teman, dan saudara bagi warga. Dalam setiap langkahnya, ia membawa semangat kebersamaan yang menular. Warga pun merasa lebih mudah untuk menghadapi musim hujan karena ada Babinsa yang selalu siap turun tangan. Gotong royong seperti ini bukan hanya membersihkan saluran air, tapi juga membersihkan hati dan memperkuat ikatan sosial. Di Desa Gumantar, Lombok Utara, kebersamaan adalah kekuatan yang tak tergoyahkan. Dan dengan semangat itu, warga desa pun tersenyum lega, tahu bahwa mereka tidak pernah sendirian dalam menghadapi cobaan alam.