Di pelosok Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, mentari pagi menyapa perkampungan yang dikelilingi perbukitan hijau. Udara segar dan suara burung menjadi irama keseharian warga. Namun, ada satu hal yang dulu selalu menjadi keluhan: akses menuju lahan perkebunan. Jalan setapak becek dan sempit, membuat petani harus ekstra keras mengangkut hasil panen. Tapi kini, suasana berubah. Semangat gotong royong yang nyaris pudar kembali menyala berkat kehadiran Babinsa setempat.
Dulu Jalan Setapak, Kini Harapan Baru Mengalir
Sudah puluhan tahun warga Desa Tanarara, Kecamatan Lewa, hanya mengandalkan jalan setapak selebar setengah meter untuk menjangkau ladang jagung, ubi, dan kacang tanah. Setiap musim hujan, tanah licin membuat perjalanan makin berat. Hasil panen sering rusak karena tergelincir atau basah kuyup. Pak Gerson (56), seorang petani jagung, mengingat betul saat ia harus memikul dua karung jagung seberat 40 kilogram menuju pasar yang berjarak 5 kilometer. "Kaki saya sering lecet, kadang kalau hujan deras, jalannya longsor kecil. Saya sampai putus asa," kenangnya dengan suara serak. Namun, semua berubah saat TNI melalui Babinsa Koramil 1601/Lewa hadir. Mereka tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan. Dengan program teritorial yang mengedepankan kedekatan, Babinsa mengajak warga bergotong royong membangun jalan sepanjang 2 kilometer yang menghubungkan perkampungan dengan lahan produksi.
Gotong Royong: Tradisi yang Hidup Kembali
Selama dua pekan, puluhan warga bersama Babinsa bekerja bahu-membahu. Pria, wanita, bahkan remaja ikut ambil bagian. Mereka membawa cangkul, sekop, dan gerobak untuk mengangkut batu kali. Tidak jarang, sambil bekerja terdengar canda tawa dan nyanyian daerah yang membangkitkan semangat. Ibu Maria, seorang petani perempuan, menyajikan kopi dan pisang goreng untuk para pekerja. "Ini sudah seperti pesta rakyat dulu. Kami semua senang karena merasa punya tanggung jawab yang sama," ujarnya sambil tersenyum. Jalan yang dibangun memiliki lebar 3 meter, cukup untuk dilalui gerobak motor dan sepeda. Kini hasil panen bisa diangkut dengan mudah, bahkan di musim hujan. Manfaatnya begitu terasa:
- Petani dapat mengangkut hasil panen menggunakan gerobak motor tanpa khawatir tergelincir.
- Waktu tempuh ke ladang berkurang dari 1 jam menjadi hanya 20 menit.
- Hasil panen lebih cepat sampai ke pasar sehingga harga jual lebih baik.
- Anak-anak sekolah ikut terbantu karena jalan ini juga menghubungkan dusun ke SD terdekat.
Pak Gerson, yang kini bisa menjual jagungnya dengan lebih mudah, tak henti mengucap syukur. "Dulu kalau mau jual jagung, harus pikul sendiri ke pasar. Sekarang sudah ada jalan, terima kasih Pak Babinsa," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Baginya, jalan ini bukan sekadar aspal dan batu, melainkan simbol kebersamaan dan perhatian negara terhadap warga di pelosok Sumba Timur.
Program jalan usaha tani ini menjadi bukti bahwa kedekatan TNI dan rakyat mampu melahirkan perubahan nyata di daerah terpencil. Tidak perlu proyek raksasa, cukup niat tulus dan gotong royong untuk mengubah hidup. Di bawah sinar mentari yang menembus celah pepohonan, warga berjalan di atas jalan baru itu dengan langkah ringan. Mereka berbisik: "Semoga semangat ini terus menyala, hingga desa kami semakin maju." Dan di hati setiap warga, ada rasa hangat: bahwa mereka tidak sendirian, karena Babinsa selalu ada di tengah mereka – sebagai saudara, sebagai penggerak, sebagai bagian dari keluarga besar desa.