Pagi-pagi di Dusun Suka Maju, Kabupaten Lombok Tengah, suara air gemericik dan gelak tawa anak-anak mulai terdengar riang dari balik pintu MCK baru. Dulu, pemandangan di sini jauh berbeda: banyak warga yang masih buang air sembarangan di kebun atau selokan. Kebiasaan itu bukan sekadar masalah kenyamanan, tapi jadi sumber penyakit. Sanitasi buruk membuat angka stunting di dusun ini cukup tinggi. Balita sering diare, gizi susah naik. Ibu-ibu cemas, tapi nyatanya belum ada fasilitas MCK yang layak. Sampai akhirnya, Babinsa setempat, Serda Putra, turun tangan dan memulai sesuatu yang sederhana tapi berdampak besar.
Dari Kebiasaan Lama ke Kebiasaan Baru
Serda Putra tak cuma datang memberikan arahan. Ia langsung mengajak warga duduk bersama di balai dusun. “Kita bangun MCK bersama-sama. Saya urus semen dan pipa, warga siapkan tenaga dan material lokal,” ujarnya dengan semangat. Tak butuh waktu lama, semangat gotong royong langsung menyala. Warga bahu-membahu, ada yang menyumbang bambu, ada yang menggali tanah, bahkan anak-anak ikut mengangkut batu kecil. Dalam waktu dua minggu, tiga unit MCK berdiri kokoh di tiga titik strategis dusun. Bukan hanya bangunan fisik yang didirikan, tapi juga kesadaran baru bahwa kebersihan itu urusan bersama.
- Warga kini memiliki tempat mandi dan mencuci yang nyaman, tidak perlu lagi ke sungai atau tempat terbuka.
- Anak-anak bisa buang air di jamban sehat, mengurangi risiko diare dan cacingan.
- Babinsa juga memberi edukasi cuci tangan pakai sabun setiap selesai kegiatan, terutama saat ibu-ibu berkumpul di posyandu.
- Puskesmas setempat turut terlibat untuk memantau gizi balita, memastikan perbaikan sanitasi benar-benar menekan angka stunting.
Gotong Royong, Bukan Sekadar Bangun Tembok
Program ini tidak berhenti di pembangunan tembok dan atap. Serda Putra dan Puskesmas bekerja sama menggelar penyuluhan rutin. Ibu-ibu diajari pentingnya air bersih, cara mencuci tangan yang benar, dan asupan gizi seimbang. “Kami tidak hanya bangun fisik, tapi juga edukasi pentingnya cuci tangan pakai sabun,” kata Serda Putra dengan senyum. Di posyandu, balita kini ditimbang dan diukur tinggi badannya setiap bulan. Perlahan, angka stunting mulai turun. Ibu Maya, warga dusun, bercerita, “Dulu anak saya sering sakit perut. Sekarang setelah ada MCK dan kami rajin cuci tangan, dia lebih sehat, makannya lahap.”
Kisah Dusun Suka Maju ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana: gotong royong membangun MCK. Babinsa tidak hanya menjadi penjaga keamanan, tetapi juga penggerak perubahan kesehatan. Warga merasakan langsung manfaatnya — bukan hanya perut anak yang sehat, tapi juga harga diri masyarakat yang meningkat karena lingkungan bersih. Semua berawal dari tangan-tangan yang saling membantu, dari seorang Serda Putra yang mau duduk dan mendengar. Di balik bangunan MCK itu, ada harapan: bahwa stunting bisa dikalahkan, dan dusun ini akan tumbuh dengan generasi yang lebih kuat, sehat, dan saling menjaga.