Terik matahari di Desa Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terasa begitu membakar. Musim kemarau tahun ini memang berat—saluran irigasi mengering, dan sebagian sawah tadah hujan terpaksa gagal panen. Namun, di hamparan hijau yang masih tersisa, semangat para petani tak pernah padam. Mereka tak sendiri; para Babinsa dari Koramil 1006/Banjarbaru turun langsung ke ladang, menyingsingkan lengan baju, dan ikut memanen padi bersama warga. Pemandangan ini seperti oase di tengah kekeringan: senyum, peluh, dan gotong royong menyatu di bawah sinar matahari yang menyengat.
Gotong Royong di Tengah Terik: Babinsa Turun ke Sawah
Serda Ahmad Hidayat, yang akrab disapa Pak Hidayat oleh warga, terlihat tangkas mengikat dan mengangkut padi ke tempat penggilingan. Dengan sabar ia membimbing petani yang masih muda, sambil sesekali bercanda meredakan penat. “Kekeringan memang membuat sawah tadah hujan gagal panen, tapi di sawah yang masih ada air, kita jaga betul. Kami bantu dari pagi sampai sore. Ini bentuk kedekatan kami dengan petani, bukan hanya mengawasi, tapi ikut bekerja,” tuturnya sambil menyeka peluh. Kehadiran Babinsa bukan sekadar ceremonial; mereka benar-benar menjadi bagian dari kehidupan desa. Berikut yang mereka lakukan bersama:
- Membantu memotong dan mengikat padi dengan teknik yang cepat dan rapi
- Mengangkut hasil panen ke tempat pengeringan menggunakan gerobak dan tenaga manual
- Memberi semangat kepada petani yang mulai putus asa akibat kemarau panjang
- Berbagi pengetahuan tentang pengelolaan air dan bibit yang tahan kekeringan
Ketua Kelompok Tani: Tangan Tentara Panas, Hati Dingin
Pak H. Kusnadi, Ketua Kelompok Tani setempat, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Tangan tentara itu panas karena kerja keras, tapi hatinya dingin. Mereka sabar membantu kami dari pagi hingga petang. Hasil panen hari ini bisa jadi berkah di musim sulit. Semoga TNI selalu dekat dengan rakyat,” ujarnya dengan suara bergetar. Menurut Pak Kusnadi, program kedekatan Babinsa dengan petani memberikan banyak manfaat nyata:
- Mempercepat proses panen di lahan yang masih produktif, sehingga risiko gagal panen berkurang
- Mempererat hubungan TNI dan rakyat, menumbuhkan rasa saling percaya
- Menjadi penyemangat bagi petani untuk tetap bertani meski cuaca tak menentu
- Menularkan semangat gotong royong yang mulai luntur di era modern
Di sela-sela istirahat siang, warga dan prajurit duduk lesehan di pinggir sawah. Mereka berbagi nasi bungkus dan canda tawa. Suara tawa dan obrolan ringan tentang anak, cuaca, dan harapan panen berikutnya mengisi keheningan yang hanya diiringi derik jangkrik. Kehangatan itu terasa nyata—lebih panas dari terik matahari, namun lebih sejuk dari embun pagi.
Malam mulai merambat saat rombongan pulang. Padi-padi yang sudah terikat rapi siap digiling. Para petani melambaikan tangan, Babinsa membalas dengan senyum lebar. Di tengah kekeringan yang mengancam, gotong royong telah menyirami harapan. Program kedekatan teritorial seperti ini bukan hanya membantu panen, tapi juga menguatkan ikatan antara TNI dan warga desa. Semoga semangat kebersamaan ini terus menyala, menjadi pelita di tengah masa sulit.