Di Desa Lendang, Lombok Timur, mentari pagi menyapa hamparan sawah yang mulai menghijau. Namun, beberapa bulan lalu, pemandangan ini hampir tak terbayangkan. Saat musim kemarau tiba, tanah-tanah pertanian di desa ini sering kali retak-retak kekeringan, membuat para petani hanya bisa pasrah. Namun, segalanya berubah ketika Babinsa setempat, Sersan Satu Rudi, turun tangan bersama kelompok tani. Dengan semangat gotong royong, mereka membangun irigasi sederhana sepanjang 2 kilometer yang memanfaatkan pipa bambu dan saluran tanah. 'Kami manfaatkan sumber mata air di bukit. Airnya dialirkan ke sawah yang paling membutuhkan,' jelas Rudi sambil memeriksa aliran air yang kini mengalir deras.
Kisah Gotong Royong yang Mengubah Wajah Pertanian Desa
Proyek irigasi ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah gerakan kebersamaan. Para petani, yang sehari-hari bergelut dengan cangkul dan benih, bahu-membahu menggali saluran, menyambung bambu, dan memastikan setiap tetes air sampai ke sawah. 'Saya heran, lihat semangat mereka. Dari pagi hingga petang, tak kenal lelah,' ujar H. Saleh, seorang petani berusia 55 tahun yang sawahnya menjadi salah satu penerima manfaat utama. Dengan adanya irigasi dari Babinsa, sawah padi miliknya yang tadinya hanya bisa ditanam sekali setahun, kini bisa panen dua kali. 'Terima kasih Pak Babinsa. Ini bukan hanya bantuan, tapi perubahan hidup,' tuturnya haru.
Manfaat Nyata yang Dirasakan Langsung oleh Warga
Program yang didukung oleh dana desa dan swadaya masyarakat ini tidak hanya mengairi sawah, tetapi juga membawa sejumlah manfaat yang dirasakan langsung oleh warga Desa Lendang. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Peningkatan hasil panen: Sebelumnya, petani hanya bisa panen sekali setahun. Kini, dengan aliran air yang stabil, mereka bisa panen dua kali lipat, bahkan lebih.
- Penghematan biaya: Dengan irigasi sederhana, petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membeli pompa air atau menyewa tangki air saat kemarau.
- Kemandirian pangan: Produksi beras lokal meningkat, sehingga desa tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar saat musim paceklik.
- Kebersamaan yang erat: Proyek ini memperkuat tali silaturahmi antara Babinsa, kelompok tani, dan seluruh warga. Gotong royong menjadi budaya yang kembali hidup.
Bagi H. Saleh dan petani lainnya, hadirnya irigasi sederhana di Lombok ini adalah jawaban atas doa yang lama terpendam. Sawah-sawah yang dulu sepi kini dipenuhi gemericik air dan suara burung-burung yang beterbangan. 'Anak saya dulu sempat bilang, mau jual sawah saja karena susah air. Sekarang, dia malah ikut membantu perbaikan saluran,' cerita H. Saleh sambil tersenyum.
Di ujung sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit, para petani masih terlihat bergotong royong merawat saluran irigasi. Sersan Satu Rudi duduk bersama mereka, sesekali tertawa lepas. 'Ini bukan kerja saya sendiri. Ini kerja kita semua. Selagi ada air, kita jaga bersama,' ujarnya. Kehangatan persaudaraan dan harapan baru mengalir deras seperti air yang kini mengairi sawah-sawah di Desa Lendang. Semoga semangat ini terus menyala, dan desa-desa lain di Lombok pun bisa merasakan perubahan yang sama. Karena dari tangan yang bergandengan, tanah yang gersang pun bisa kembali subur.