Senja mulai merambat di celah-celah rimbunnya pepohonan Kalimantan Tengah. Cahaya lampu teplok menyala redup dari balik dinding bambu milik Pak Jumadi (72) di Desa Tanjung Harapan. Kakek yang tinggal seorang diri tanpa keluarga itu tengah tersenyum pelan. Bukan karena hangatnya api tungku, melainkan karena kehadiran Sertu Rudi Hartono, Babinsa dari Koramil 1015-01/Pangkalan Bun, yang datang sambil membawa paket sembako. Peristiwa sederhana ini terasa begitu berarti—bagaikan kabar baik yang mengetuk pintu kesunyian di pedalaman. Kehadirannya bagai cahaya di tengah gelapnya malam, membawa pesan bahwa di negeri ini, tidak ada yang benar-benar sendiri.
Babinsa, Sosok yang Menyapa di Tengah Sepinya Hari
Bagi warga di pedalaman Kalimantan, kehadiran seorang babinsa bukan sekadar petugas negara. Mereka adalah tetangga yang selalu siap sedia. Saat Pak Jumadi menerima bantuan sembako untuk lansia itu, mata tuanya mulai berkaca-kaca. Namun, kehangatan tak berhenti di situ. Sertu Rudi tak hanya menyerahkan bantuan lalu pergi. Dengan penuh kesabaran, ia menyingsingkan lengan baju dan membersihkan halaman rumah yang mulai ditumbuhi ilalang. Ia juga membetulkan atap gubuk yang bocor—tempat Pak Jumadi mengeluh saat hujan turun di malam hari.
Program peduli lansia yang digagas Koramil 1015-01/Pangkalan Bun ini memang menyasar warga lanjut usia yang hidup sebatang kara. Dengan semangat gotong royong, para babinsa tak hanya fokus pada kebutuhan pangan, tetapi juga pada kebutuhan batin para orang tua ini. Mereka ingin memastikan bahwa tidak ada warganya yang merasa sendiri di masa tuanya. Inilah wujud babinsa sebagai ujung tombak negara yang menyapa langsung ke rumah-rumah warga.
Bukan Sekadar Sembako, tapi Kehangatan yang Tak Ternilai
Melalui program ini, babinsa memberikan lebih dari sekadar sembako. Mereka menghadirkan perhatian dan kasih sayang yang selama ini hilang dari kehidupan para lansia di pelosok. Berikut rincian manfaat yang dirasakan langsung oleh warga:
- Pembagian paket sembako untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari para lansia, seperti beras, minyak goreng, dan gula.
- Pemeriksaan kondisi kesehatan sederhana secara berkala oleh babinsa, termasuk cek tekanan darah dan tensi.
- Pemberian vitamin agar daya tahan tubuh lansia tetap terjaga di usia senja.
- Perbaikan ringan pada rumah warga, seperti menambal atap bocor dan membersihkan halaman.
- Pendampingan emosional dan kebersamaan sebagai bentuk kehadiran pengganti keluarga, sekadar duduk dan bercerita.
Kepala Desa Tanjung Harapan tak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, kehadiran babinsa bukanlah hal yang baru bagi warga. Di saat warga sedang kesulitan, merekalah yang pertama kali muncul. Apalagi untuk warga lansia yang tidak memiliki siapa-siapa, kehadiran Sertu Rudi dan rekan-rekannya terasa seperti pelukan hangat dari negeri sendiri.
Program ini mengajarkan bahwa pembangunan desa bukan hanya tentang aspal dan gedung, tetapi tentang hadirnya kepedulian untuk orang-orang yang terpinggirkan. Pak Jumadi sendiri tak kuasa menahan haru. Sambil memeluk erat paket sembako yang baru saja diterimanya, ia berbisik lirih, dan air matanya jatuh pelan di punggung tangan yang keriput. Meski tidak banyak bicara, tatapannya cukup menjelaskan betapa dalam rasa terima kasihnya. Bagi Pak Jumadi, babinsa adalah cahaya kecil yang memperlihatkan bahwa di dunia yang semakin sibuk ini, masih ada orang yang peduli.
Kisah ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cerita hangat di pedalaman Kalimantan. Melalui program sembako dan perhatian tulus untuk para lansia, kita diingatkan bahwa kebersamaan adalah obat terkuat di masa tua. Semoga semangat gotong royong seperti ini terus menyala, merangkul setiap warga yang rentan, dan menghangatkan hati mereka yang pernah merasa sepi. Karena di desa kita, tak ada yang sendirian—selama ada babinsa yang peduli dan warga yang saling menguatkan.