Terik matahari siang itu terasa begitu menyengat di Dusun Tempuran, Desa Tempuran. Angin kering bertiup membawa debu, dan di sejumlah rumah, sumur-sumur warga mulai memperlihatkan dasar yang mengering. Di tengah suasana yang tidak mudah itu, hati Sertu Supriadi, Babinsa Desa Tempuran, tergerak. Ia tidak bisa tinggal diam. Bersama warga, ia lalu merencanakan bergotong royong menggali sumur baru di kediaman Bapak Samsi, yang juga kesulitan mendapatkan air bersih.
Saat Kemarau Menggigit, Tangan-tangan Hangat Mulai Bekerja
Pagi harinya, cangkul dan sekop bersiap di halaman rumah Bapak Samsi. Sertu Supriadi datang paling awal, disusul bapak-bapak dan pemuda desa yang berbondong-bondong. Suasana tidak terasa seperti kerja berat, tetapi seperti kebersamaan yang lama dinantikan. Sertu Supriadi bahkan turun langsung ke dalam lubang galian, ikut mengayunkan cangkul dan mengangkat tanah bersama warga. "Kami hadir bersama masyarakat untuk membantu," ujarnya dengan nada hangat. Kata-kata sederhana itu melekat di hati warga, karena mereka benar-benar melihat Babinsanya hadir. Di sela istirahat, mereka saling bercanda dan berbagi cerita, anak-anak pun ikut berlarian di sekitar lokasi galian, sesekali membantu membawakan minum. Semua terlibat, semua merasa memiliki.
Bukan Sekadar Sumur, Melainkan Ikatan Hati
Sumur yang sedang digali ini bukan hanya soal air bersih. Di balik setiap cangkulan tanah, ada cerita tentang kepedulian yang menyambung rasa. Bagi warga, kehadiran Sertu Supriadi di tengah kesulitan mereka adalah bukti bahwa TNI dekat dan hadir untuk rakyat. Sumur ini kelak bukan sekadar lubang di tanah, melainkan simbol hubungan erat antara prajurit dan rakyat. Ikatan itu dibangun bukan dari teori, tetapi dari keringat bersama, canda tawa di sela istirahat, dan harapan yang sama untuk melihat air jernih memancar.
Manfaat dari gotong royong ini terasa nyata, antara lain:
- Warga yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih memiliki harapan baru untuk keperluan sehari-hari keluarga.
- Rasa kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian antarwarga semakin erat dan kuat.
- Kehadiran Babinsa di tengah-tengah warga menjadi pengingat bahwa tidak ada yang sendirian menghadapi cobaan.
Kisah Sertu Supriadi dan warga Dusun Tempuran adalah teladan kecil yang menghangatkan hati. Kepedulian tidak selalu datang dari hal besar; kadang cukup dari ajakan sederhana untuk bekerja bersama. Ketika air nanti memancar dari sumur itu, haus yang hilang tentu menyenangkan, tetapi yang lebih utama adalah keyakinan bahwa selama masih ada tangan yang mau saling membantu, tidak ada kesulitan yang benar-benar berat. Malam hari di rumah Bapak Samsi mungkin masih dipenuhi canda tawa warga yang kelelahan, tetapi hati mereka penuh syukur. Di situlah kekuatan kita, warga desa: gotong royong yang lahir dari kepedulian, bukan karena perintah, melainkan karena panggilan hati sebagai sesama saudara.